TIMURKOTA.COM, BONE – Tim Jejak Budaya baru-baru ini melakukan penelusuran di Goa Prasejarah Uhallie, yang terletak di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Goa ini diduga menyimpan jejak peradaban kuno yang penting bagi sejarah lokal dan nasional.
Penelusuran ini dilakukan untuk mendokumentasikan artefak dan lukisan dinding yang bisa memberikan gambaran kehidupan manusia prasejarah di kawasan tersebut.
Dalam ekspedisi ini, tim menemukan beberapa indikasi pemukiman kuno dan alat-alat batu yang diperkirakan berusia ribuan tahun.
Para peneliti juga mencatat keberadaan lukisan dinding yang unik, yang diyakini memiliki nilai historis dan budaya tinggi.
Temuan ini diyakini dapat menambah wawasan tentang tradisi dan kehidupan masyarakat prasejarah di Sulawesi Selatan.
Kegiatan penelusuran Goa Prasejarah Uhallie ini mendapat perhatian luas dari masyarakat dan kalangan akademisi.
Banyak pihak menekankan pentingnya pelestarian situs ini agar tetap aman dari kerusakan.
Tim Jejak Budaya berencana melanjutkan penelitian lebih mendalam dan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menjadikan Goa Uhallie sebagai lokasi edukasi sejarah dan destinasi wisata budaya.
Sebanyak 26 anggota bersama pengurus komunitas Jejak Budaya melakukan penelusuran budaya pada tanggal 17–18 Mei 2025. Kegiatan ini menyasar Goa Uhallie, salah satu situs gua prasejarah yang terletak di Dusun Kalukue, Desa Langi, Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Goa Uhallie yang ditemukan oleh masyarakat setempat menyimpan banyak peninggalan arkeologis yang menjadi bukti kehidupan manusia prasejarah.
Di dalam gua tersebut, terdapat lukisan telapak tangan, serta gambar-gambar yang menyerupai hewan seperti babirusa dan anoa, serta lukisan mirip panah.
Ketua Umum Jejak Budaya, Riswan Rusandy, S. Pd., menyampaikan harapannya agar seluruh anggota terus aktif dalam setiap kegiatan penyusuran budaya.
Ia menegaskan bahwa pelestarian dan pengenalan budaya lokal, khususnya di Kabupaten Bone, adalah upaya penting untuk mengenali akar sejarah dan identitas masyarakat.
“Pada dasarnya, mereka yang tidak mengetahui asal-usul budayanya dan masa lalunya sama seperti pohon tanpa akar,” ungkap Riswan Rusandy.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program rutin Jejak Budaya yang bertujuan mengedukasi generasi muda tentang kekayaan budaya lokal dan pentingnya pelestarian warisan sejarah. (*)


