Isi Lengkap Artikel
Menurut informasi yang dihimpun, perseteruan antara Hj. Faidah dan Hj. Adriani bermula saat kunjungan keduanya di Jakarta pada 6 Maret 2026. Kedua pihak dikabarkan sempat bersitegang hingga hampir terjadi adu fisik, namun situasi berhasil dilerai sebelum eskalasi lebih jauh.
Tidak hanya Hj. Adriani yang kecewa dengan sikap Hj. Faidah. Beberapa anggota DPRD Kabupaten Bone menyatakan kekecewaan mereka terhadap Sekretaris Dewan (Sekwan) karena dianggap tidak menjalankan peran vital dalam mendukung kinerja legislatif. Hal ini memunculkan wacana pergantian posisi Sekwan di DPRD.
Peristiwa menegangkan terjadi ketika sejumlah anggota DPRD menggelar rapat di ruang Banggar Lantai I Gedung DPRD Kabupaten Bone.
Loyalis Hj. Adriani yang dipimpin Sahrul Ramadan mendatangi gedung dengan suasana tegang, menuntut pertanggungjawaban Hj. Faidah.
Kelompok loyalis ini berteriak-teriak mencari Hj. Faidah dan menuntut agar Bupati Bone segera mengambil tindakan. Mereka menilai bahwa tindakan Sekwan telah mencederai kehormatan Hj. Adriani di hadapan publik dan menurunkan wibawa legislatif.
“Sekwan sebagai representasi eksekutif di lembaga legislatif seharusnya mampu menjaga komunikasi yang baik. Namun yang terjadi justru diduga mencederai kehormatan Ibunda kami, Hj. Adriani AP, di depan umum,” ujar Sahrul Ramadan.
Hingga berita ini diturunkan, Hj. Faidah belum memberikan klarifikasi resmi terkait insiden tersebut. Keberadaannya sempat tidak diketahui saat loyalis Hj. Adriani mendatangi gedung DPRD, sehingga situasi menjadi semakin memanas di kalangan anggota dan masyarakat yang mengikuti perkembangan.
Kasus ini memicu perdebatan publik mengenai profesionalisme Sekwan dalam menjalankan fungsi administratif di DPRD Bone.
Beberapa pengamat menilai perlunya evaluasi kinerja pejabat struktural demi menjaga kehormatan legislator serta kelancaran jalannya mekanisme pemerintahan di tingkat kabupaten.