TIMURKOTA.COM- Bagian lanjutan kisah marketing bank kembali menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial.
Dalam pengakuannya, ia membahas skandal yang melibatkan hubungan dengan sekretaris dan beberapa nasabah, menyoroti dinamika profesional serta batasan etika di lingkungan kerja.
Cerita ini memicu diskusi mengenai integritas dan profesionalisme di dunia perbankan.
Marketing tersebut menekankan tantangan yang dihadapi, termasuk tekanan sosial dan risiko reputasi.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga batasan dan mempertimbangkan dampak setiap keputusan agar tidak menimbulkan masalah bagi karier maupun hubungan profesional di masa depan.
Pakar psikologi sosial dan manajemen menilai kasus ini sebagai refleksi penting tentang etika, tanggung jawab, dan batasan dalam dunia kerja.
Mereka menekankan bahwa menjaga profesionalisme dan integritas tetap menjadi prioritas, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai konsekuensi setiap pilihan dalam lingkungan profesional.
Setelah belajar, Boy merasa bahwa dunia marketing merupakan pekerjaan yang menantang.
Dibutuhkan kemampuan dan wawasan yang baik. Pasalnya, seorang marketing harus mampu menguasai beberapa bidang ilmu lain.
Dirinya kemudian memasukkan lamaran di salah satu bank swasta di kawasan Bekasi. Di sana dirinya memulai karir dengan status sebagai marketing.
Untuk mempermudah dalam menjankan pekerjaan. Boy mengaku banyak membaca artikel di google. Selain itu dirinya juga bertanya dan konsultasi dengan beberapa orang rekannya.
"Karena marketing itu berkaitan erat dengan penjualan. Kemudian ada target setiap bulan yang harus kita capai, khususnya dalam penjualan," ungkap dia.
Awal mula bekerja, dirinya langsung ditempatkan pada bagian kredit. Tugasnya yakni mencari pelanggan sesuai target yang dibebankan oleh perusahaan.
"Kebetulan karena bank tempat saya bekerja baru launching. Sehingga targer yang harus dipenuhi setiap bulan yakni Rp200 juta," ungkap dia.
Menurutnya, BMPK perusahaan Rp400 juta dalam satu bulan. Dirinya kemudian, langkah pertama yang dia lakukan yakni dengan membuat kartu nama.
"Kemudian saya ke percetakan untuk membuat brosur yang nantinya akan saya sebarkan ke tempat-tempat umum untuk mendapatkan calon pelanggan," terang dia.
Dirinya melanjutkan, brosur tersebut dalam setiap bukan dikopy sebanyak 500 lembar. Ketika sudah habis, dirinya membuat lagi.
"Itu juga saya pasang secara door to door ke setiap pintu di perumahan. Karena pada zaman itu belum ada yang namanya sosial media," bebernya.
Lanjutkan Membaca Dengan Klik Link Di Sini

