timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Cerita Kesaksian Suporter Selamat dari Kerusuhan: Kami Dipukul dan Ditembaki dari Dalam dan Luar Stadion

Baca Juga

Wiwink-Bola, Senin 3 Oktober 2022 10:30 WIB

Oknum petugas diduga melakukan tindakan fisik ke suporter yang masuk dalam lapangan


TIMURKOTA.COM, MALANG- Sebuah tragedi hitam dalam dunia sepakbola terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.


125 nyawa melayang, 323 suporter mengalami luka-luka. Korban meninggal sebagian besar dari kalangan suporter dewasa dan ada pula anak balita.

Selain itu ada dua orang anggota Polri yang bertugas di lokasi juga meninggal dunia setelah mengalami sesak nafas di dalam stadion.

Kapolri, Komjen Pol. Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo mengatakan, pihaknya bersama tim yang telah dibentuk akan melakukan proses penyelidikan terkait dengan penyebab kerusuhan tersebut.

"Proses penyelidikan sementara berlangsung. Tentunya, ketika ada jndikasi pelanggarak pidana. Maka tentunya akan dilakukan proses sebagaimana mestinya," ungkap, Kapolri.

Kapolri melanjutkan, apa yang terjadi di Kanjuruhan Malang merupakan insiden kemanusiaan. Sehingga harus ditangani dengan baik agar tidak terulang di masa yang akan datang.

"Tentunya akan ditangani sebaik mungkin sesuai dengan arahan dari bapak Presiden. Bahwa apa yang terjadi di Kanjuruhan merupakan insiden kemanusiaan,"lanjutnya.

Sementara itu ada Suporter Arema FC bernama, Zulkarnain menceritakan kesaksian dia dalam kerusuhan tersebut.
Menurutnya, suporter yang meninggal bukan hanya yang turun ke dalam lapangan.

"Kami pun yang memilih berdiam diri di tribun bagian timur di temaki gas air mata. Seketika kami berhamburan mencari jalur keluar dari stadion. Disitulah ada beberapa suporter berdesak-desakan dan saling injak karena mulai sesak nafas akibat gas air mata," ungkapnya.

Kemudian ada suporter lain asal Blitar bernama, Riyan Dwi Cahyono (22) warga asal Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar menceritakan alasan mereka turun ke lapangan.

Riyan saat ini tengah berbaring dalam perawatan medis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kanjuruhan, karena mengalami patah tulang kanan.


"Alasan kami turun ke lapangan adalah bentuk protes terhadap manajemen. Kenapa bisa Arema kalah di kandang, padahal rekor 23 tahun terakhir tim kami tak pernah kalah atas Persebaya di kandang," ungkapnya.

Namun, mereka belum sampai ke dalam stadion sudah ada tembakan gas air mata. Selain itu rekan mereka yang sampai di lapangan dikejar dan dipukuli oleh petugas yang berjaga.

"Kami sangat kecewa dengan perlakuan petugas di lapangan. Mereka memukul kami dan menembak gas air mata hingga sesak nafas," tukas dia.

Sebagian suporter lain sempat terkurung di dalam stadion. Mereka dikuncikan pintu oleh panitia dan pihak keamanan. Setelah pintu keluar terbuka mereka kembali ditembaki gas air mata dari arah luar stadion.

"Jadi tembakan gas ait mata itu, tidak hanya di dalam stadion. Juga berasal dari petuga di luar stadion," imbuh dia.

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close