timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Terungkap, Mahasiswa yang Terpotong Tangannya Diparangi Belasan Pria Bertopeng


Editor: hamzah/timurkota

TIMURKOTA.COM, MAKASSAR-
Kasus penyerangan Dua asrama mahasiswa yang berada di Jalan Sungai Limboto, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) masih dalam penanganan polisi.


Dari hasil penelusuran, korban diserang sejumlah pria bertopeng. Mereka membawa senjata tajam dan  bom molotov. Seorang orang mahasiswa yang merupakan penghuni asrama terkena tebasan senjata tajam hingga tangan kirinya putus.


Dilansir dari CNN, Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana berjanji menindak tegas para pelaku penyerangan dan pelemparan bom molotov di dua asrama mahasiswa yang terjadi Minggu (28/11) tersebut.


"Kami akan menindak tegas kepada oknum pelaku," kata Kombes Witnu.


Kombes Witnu pun prihatin dan menyesalkan peristiwa yang menyebabkan satu mahasiswa kehilangan tangannya usai ditebas. Sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat.


"Percayakan kepada kami untuk mengambil tindakan tegas kepada oknum pelaku, saya berharap kepada sesepuh dan tokoh-tokoh masyarakat Luwu dan Bone untuk menjaga kedamaian di Kota Makassar yang sejuk dan damai," ungkapnya.


Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Selatan membeberkan telah mengantongi ciri-ciri para OTK yang melakukan penyerangan dan menyebabkan mahasiswa terluka di Kota Makassar.



Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Witnu Urip Laksana mengatakan, selain keterangan saksi. Rekaman CCTV di lokasi akan menjadi petunjuk polisi untuk mengungkap para pelaku.



"Dari tangkapan rekaman CCTV, kami telah mendapatkan ciri-ciri para pelaku. Doakan semoga semua pelaku segera tertangkap," kata dia menjelaskan, Minggu (28/11/21) malam.



Dalam rekaman CCTV, ada sekitar 30an orang di dua lokasi berbeda saling serang dalam kurung waktu tidak lama. Aksi itu kemudian terjadi dengan saling balas.



"Di TKP kami mengamankan barang bukti, ada bekas bom molotov dan sarung senjata tajam jenis parang panjang. Begitu juga dengan penyerangan di Asrama Mahasiswa Luwu dan Bone," katanya lagi.



Semua Pihak Sepakat Redahkan Suana dan Selesaikan Secara Hukum



Terkait aksi saling serang yang belakangan diketahui melibatkan mahasiswa dari Kabupaten Bone dan Palopo ditanggapi masing-masing ketua Kerukunan Keluarga dari daerah itu.



Kerukunan Keluarga Bone (KKB) bersama Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) langsung melakukan pertemuan khusus yang dilangsungkan  di Cangkir Kopi, Jalan Tupai, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/11/21) sore.



Buhari Kahar Muzakkar yang merupakan Ketua KKLR didampingi tokoh lainnya, Andi Hatta Marakarma. Dari pihak KKB hadir Ketua, Andi Syahriwijaya bersama Dewan Penasehat KKB Andi Jafar Mappa.



Dari pihak penegak hukum hadir Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Budi Haryanto bersama Dandim Makassar Kolonel Kav Dwi Irbaya Sandra.



Dalam pertemuan tersebut masing-masing perwakilan meminta kepada mahasiswa untuk tidak terprovokasi. Serta menyerahkan sepenuhnya permasalahan tersebut secara hukum.



Buhari mengatakan tak ada lagi alasan bagi kalangan mahasiswa untuk terprovokasi terkait dengan permasalahan yang ada.



"Kita hentikan, Luwu dan Bone itu satu, jangan terpengaruh dengan upaya memprovokasi," katanya.



Buhari meminta kepada penegak hukum untuk menindak tegas pelaku secara individu.



"Harapan kami polisi percepat penangkapan terhadap pelaku. Agar tidak merembes dan ada korban lagi," imbuh dia.



Sementara Ketua Kerukunan Keluarga Bone, Andi Syahriwijaya meminta agar kasus penyerangan asrama dihentikan kemudian proses selanjutnya diserahkan kepada penegak hukum.



"Sampai di sini saja. Kami imbau mahasiswa Bone serahkan persoalan ini sudah ditangani pihak berwajib," tegas, Andi Syahriwijaya.



Menurutnya, sebagian mahasiswa tidak mengetahui secara persis persoalan. Sehingga dia meminta mahasiswa bersabar, menahan diri dan kembali beraktifitas di kampus.


"Kembali kuliah, tahan diri, jangan berkepanjangan, jangan melebar. Serahkan ke polisi menanganinya." ungkapnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close