timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Tolak 500 TKA Cina. Wali Kota Kendari: Kami Tutup Kota!

Ilustrasi TKA Cina (dok)
TIMURKOTA.COM,  KENDARI-
Walikota Kendari Sulkarnain dengan tegas menolak kedatangan 500 TKA Cina di tengah Pandemi  Covid-19.

Menurutnya,  meski secara administrasi TKA tersebut telah memenuhi syarat masuk ke salah satu perusahaan namun pihaknya tak akan membiarkan hal itu terjadi.

"Bagaimana perasaan rakyat kami khususnya di Kota Kendari. Mereka diinstruksikan tinggal di rumah sementara pendatang dari luar bebas masuk. Nanti malah terjadi kecemburuan,  insyallah kami bersama masyarakat akan menutup akses masuk ke Kota Kendari," tukasnya.

Menurutnya keputusan bertahan agar TNA tak masuk ke Kendari selama Covid-19 mendapat dukungan dari warga.

"Kami bersama warga menolak," tandas Zulkarnain.

Sebelumnya, Gubernur dan DPRD Sulawesi Tenggara satu suara menolak kedatangan 500 TKA asal China yang rencananya datang mulai pekan ini secara bertahap.

Gubernur Sultra Ali Mazi membenarkan rencana kedatangan ratusan TKA yang akan bekerja di salah satu pabrik smelter yang ada di Sultra.

Menurut Ali Mazi, penolakan itu dilakukan karena bertentangan dengan suasana kebatinan masyarakat Sultra yang tengah berjuang melawan pandemi Covid-19.

Secara terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Dirjen Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan Aris Wahyudi menjelaskan, adanya Rencana Penggunaan 500 Tenaga Kerja Asing (RPTKA) asal China di Indonesia masih tertunda.

Pasalnya, Indonesia baru saja menerapkan status pembatasan transportasi berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020.

Sehingga, dapat dipastikan kedatangan TKA asal China tersebut tidak akan datang dalam waktu dekat ini.

"Itu masih jauh dari kedatangan. Bukan berarti hari ini kita teken, terus besok mereka tiba. Prosedurnya masih panjang karena mereka masih harus visa, imigrasi, Kemenkumham, ke kedutaan," ujar Aris.

Ia memastikan, hadirnya 500 TKA China tersebut akan datang setelah pemerintah mencabut status pembatasan transportasi.

"Jadi tidak dalam waktu dekat ini, bisa Juni, Juli. Kayaknya dari perusahaan memandang di-suspend," ujarnya.

(rill/as)

Berita Populer

close