TIMURKOTA.COM, BONE— Sebuah video pengakuan seorang ibu rumah tangga (IRT) viral di sejumlah grup WhatsApp di Kabupaten Bone.
Dalam rekaman tersebut, perempuan itu mengaku telah menyerahkan uang Rp15 juta kepada seorang pria yang mengaku sebagai oknum polisi dengan jabatan Kanit, dengan tujuan membebaskan suaminya dari perkara hukum.
💳 Akses Artikel Premium
Untuk membaca artikel secara penuh, silakan lakukan pembayaran melalui
Bank BRI.
Berlangganan Timurkota+ untuk membaca cerita selengkapnya.
🔒 Konten Premium
❌ Kode salah atau tidak aktif
Isi Lengkap Artikel
Video tersebut beredar luas dan memicu perhatian publik karena menyebut adanya dugaan praktik pungutan liar dan penyalahgunaan wewenang oleh aparat penegak hukum.
Rekaman suara itu disampaikan menggunakan bahasa Bugis dan disebut berasal dari sambungan telepon seluler.
Dalam pengakuannya, IRT tersebut menyatakan bahwa proses penyerahan uang dilakukan secara langsung.
“Saya dilarang video,” ungkapnya, yang diartikan bahwa pihak yang menerima uang tidak mengizinkan adanya dokumentasi saat transaksi berlangsung.
“Iya, saya yang menyerahkan secara langsung kepada oknum polisi tersebut,” lanjut perempuan itu dalam rekaman, menegaskan keterlibatannya secara langsung dalam penyerahan uang yang disebutkan mencapai Rp15 juta.
Saat ditanya mengenai identitas pihak yang menerima uang, perempuan tersebut hanya menyebut inisial S.
Ia menyatakan bahwa pria tersebut mengaku menjabat sebagai Kanit, meskipun tidak menjelaskan satuan atau unit kepolisian tempat yang bersangkutan bertugas.
“Namanya S, tapi dia menyebut dirinya sebagai Kanit,” ungkapnya lagi dalam rekaman yang kini menyebar luas di media sosial dan aplikasi percakapan.
IRT tersebut juga mengungkapkan bahwa saat penyerahan uang dilakukan, terdapat dua orang di lokasi kejadian.
Salah satu di antaranya sempat hendak merekam menggunakan ponsel, namun dilarang oleh pihak yang mengaku sebagai oknum polisi tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, Polres Bone belum memberikan keterangan resmi terkait beredarnya rekaman tersebut.
Belum ada klarifikasi apakah suara dalam video itu telah diverifikasi atau apakah inisial yang disebut benar merujuk pada anggota kepolisian aktif.
Kasus ini menambah daftar panjang perhatian publik terhadap isu integritas dan transparansi penegakan hukum.
Masyarakat kini menunggu langkah tegas aparat kepolisian untuk menelusuri kebenaran informasi dalam video tersebut serta memastikan penegakan hukum berjalan secara profesional dan berkeadilan.