Iklan

SENJA YANG TAK LAGI JINGGA

Redaksi-timurkota
Jumat, September 12, 2025 | 10:17 AM WIB Last Updated 2025-09-12T03:17:56Z

Oleh: Revalina Febrianti



Kehilangan Jingganya. Warnanya pudar seperti lukisan yang luntur, menyisakan garis kelabu yang memisahkan langit dan bumi. 

Setiap sore, kenangan kembali datang membawa tawa yang hilang, janji-janji yang tak terpenuhi, dan kepingan hati yang tak bisa disatukan. 

Aku memandangi senja dari jendela, berharap keajaiban bisa mengembalikan rona merahnya, dan diriku yang tak pernah tunduk pada kegelapan. 

Aku masih ingat genggaman tangan dan bisikan itu "Aku tak pantas untukmu." Kalimat sederhana itu merobek luka yang belum sembuh.

Aku mencoba menjauh, tapi kakiku terasa memberat, seolah terikat pada masa lalu. 

Aku tahu, satu-satunya cara adalah membuka pintu, berlari keluar, dan menemukan senja yang baru bukan yang jingga, melainkan yang berwarna merah atau ungu. 

Namun, keberanian itu tak kunjung datang. 

Aku masih di sini, membiarkan senja yang pudar merayap di dinding kamarku, membiarkan kegelapan perlahan menelanku.

"Kemana aku harus berlari untuk mencari senja yang baru?" Pikirku. Pertanyaan itu terus menggema, membelegu langkahku. Aku sadar, satu-satunya jalan keluar adalah menemukan diriku yang baru dan mengembalikan warna hidupku. 

Dengan langkah kecil, aku memulai: Pertama, aku membuka pintu yang telah lama tertutup, membiarkan cahaya matahari membanjiri kamar dan mengusir bayangan kelabu. 

Akhirnya, aku memberanikan diri untuk melangkah keluar.

Saat memandang burung-burung yang beterbangan, aku seolah menerima sebuah pesan: tak ada tempat yang bisa memenjarakan sayap, kecuali kita yang memilih untuk berdiam.

Burung-burung itu terbang tinggi, menjelajahi langit, lalu kembali ke sarang. 

Bukan karena mereka terikat, melainkan karena mereka tahu, rumah adalah tempat untuk pulang, bukan untuk tinggal selamanya.

Aku sadar, aku juga punya sayap. Dulu patah, kini perlahan tumbuh. Mungkin belum sempurna, tapi cukup untuk membawaku terbang, lari dari masa lalu. 

Aku akan terbang, bukan untuk melupakan, tapi untuk menemukan diriku yang seutuhnya. 

Agar suatu hari, aku bisa kembali pada diriku dan tak lagi dihantui oleh senja yang pudar. Itulah Harapanku. (*)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • SENJA YANG TAK LAGI JINGGA
« Prev Next »

Jangan lupa ikuti kami di

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Trending Now

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Iklan

.entry-content { line-height: 1.4em; }