![]() |
| Siswa menunjukkan baju yang robek akibat tindakan dari Wakil Kepala Sekolah (Foto: Dok. Istimewa) |
Penulis: Syamsul Bahri Arafah
Editor: timurkota.com
TIMURKOTA.COM, BONE- Keluarga seorang siswa di SMAN 1 Bone menyampaikan keberatan atas dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan oleh oknum guru sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Humas terhadap seorang pelajar kelas XI.
Peristiwa tersebut disebut terjadi usai kegiatan latihan pentas di lingkungan sekolah pada Rabu, 20 Mei 2026.
Menurut keterangan keluarga korban kepada media, siswa bernama Muh. Ravvy disebut baru selesai mengikuti latihan pentas sekolah ketika insiden itu terjadi.
Saat berada di area sekolah, posisi resleting celana siswa tersebut dikabarkan sedikit terbuka sehingga ia mengeluarkan sebagian kecil bajunya ke arah depan untuk menutupi kondisi tersebut.
Namun, pihak keluarga menyebut situasi itu justru berujung pada tindakan yang dianggap berlebihan.
Oknum Wakasek Humas berinisial Anwar disebut langsung merobek bagian baju siswa di depan lingkungan sekolah.
Tindakan tersebut membuat siswa merasa malu hingga langsung masuk ke dalam kelas setelah kejadian berlangsung.
“Kami sangat menyayangkan tindakan tersebut. Kalau memang ada kesalahan, seharusnya diberikan teguran yang baik, bukan dengan cara merobek baju siswa di depan umum,” ungkap pihak keluarga korban saat memberikan keterangan pada Rabu siang.
Mereka menilai tindakan itu tidak mencerminkan pendekatan pendidikan yang seharusnya mengedepankan pembinaan dan perlindungan terhadap peserta didik.
Keluarga juga menyoroti dampak psikologis yang dialami siswa pascakejadian. Mereka menyebut korban mengalami rasa malu dan trauma akibat insiden tersebut.
Bahkan, keluarga meminta pihak sekolah melakukan evaluasi terhadap sikap dan tindakan oknum guru yang terlibat agar kejadian serupa tidak terulang di lingkungan pendidikan.
Kasus ini mulai menjadi perhatian masyarakat setelah informasi mengenai dugaan tindakan tersebut beredar di lingkungan sekitar sekolah.
Sejumlah pihak menilai pentingnya penerapan disiplin sekolah yang tetap mengedepankan etika pendidikan, perlindungan anak, dan pendekatan humanis terhadap siswa.
Pengamat pendidikan menilai setiap bentuk pembinaan terhadap siswa sebaiknya dilakukan melalui komunikasi yang baik dan tidak menimbulkan tekanan mental.
Lingkungan sekolah dinilai harus menjadi tempat aman bagi siswa untuk belajar dan berkembang tanpa rasa takut maupun intimidasi.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMAN 1 Bone maupun oknum Wakasek Humas yang disebut dalam laporan keluarga belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan insiden tersebut.
Keluarga berharap ada klarifikasi sekaligus langkah evaluasi dari pihak sekolah demi menjaga kenyamanan dan keamanan siswa di lingkungan pendidikan. (*)


