Iklan

Tiga Caleg Pendatang Baru Punya Peluang Mendulang Suara Pemilih Milenial dan GenZ di DPRD Dapil 7 Sulsel

timurkota.com_official
Senin, Januari 15, 2024 | 7:00 PM WIB Last Updated 2024-01-15T13:11:52Z

Penulis: Makmur
Editor: Herman Kurniawan

Tiga caleg pendatang baru di Dapil 7 DPRD Sulsel (Foto: Dok. Istimewa) 

TIMURKOTA.COM, BONE- Tiga Calon Legislatif (Caleg) pendatang baru yang bertarung di Dapil 7 DPRD Sulawesi Selatan dipredikasi bakal mampu meraup banyak suara kalangan milenial dan GenZ.

Tiga caleg tersebut masing-masing, Dr Muh Ikramullah Akmal. Dirinya merupakan akademisi muda yang dinilai punya daya tarik tersendiri bagi kalangan pemilih cerdas.

Ikramullah merupakan salah satu putra terbaik Kabupaten Bone yang bertarung pada Pileg 2024 dengan memiliki segudang pengalaman baik sebagai akademisi maupun di dunia politik.

Dirinya merupakan tenaga ahli wakil ketua MPR RI, Syariefuddin Hasan. Meski baru pertama kali bertarung dalam pesta demokrasi sebagai caleg, Ikramullah diketahui termasuk jajaran petinggi DPD Partai Demokrat Sulawesi Selatan dengan menduduki jabatan sebagai wakil sekretaris  

Sementara di dunia akademisi, Ikramullah menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni di Insitut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa.

Dirinya juga merupakan dosen Non PNS pada Ilmu Administrasi Fisip Universitas Hasanuddin Makassar.

Dari sekian banyak prestasi yang dimiliki, Ikmarullah dinilai banyak pengamat politik merupakan salah satu figur yang menjadi jawaban harapan kalangan pemilih milineal dan GenZ untuk mendudukan perwakilannya di legislatif dengan punya kemampuan SDM mumpuni. 

Kemudian kedua, ada Ahmad Zainuddin Tembong juga merupakan pendatang baru. 

Meski dirinya akan bertarung dengan beberapa politisi senior, Zainuddin dinilai punya kemampuan menggarap suara kalangan milenial.

Tembong dinilai berpeluang meraup banyak suara dari kalangan pemilih milenial khususnya santri. Pasalnya, ia merupakan alumni dari Pondok Pesantren Assadiyah Sengkang.

Tembong merupakan pengusaha muda, tentu dirinya juga punya peluang mendapat suara kalangan pengusaha muda di Bumi Arung Palakka.

Dalam dunia politik, dirinya punya pengalaman mendampingi Ketua Partai Gerindra Sulawesi Selatan, Andi Iwan Darmawan Aras.

Dirinya bahkan punya andil besar terbentuknya jaringan relawan dan mesin pemenangan Roemah Joeang AIA.

Terakhir ada nama, Andi Haerik Adfa. Ia merupakan caleg Partai PKS yang juga menjadi ujung tombak partainya dalam menggalang suara di kalangan milenial.

Meski debutan, Haerik juga punya pengalaman dalam dunia politik dengan mendapingi politisi senior PKS, Andi Akmal Pasluddin di DPR RI.

Sementara itu dilansir dari media Antara, pengamat Politik, Iding Rosyidin mengungkapkan bahwa pendekatan menggunakan medium media sosial dan metode penyampaian pesan yang mengedepankan unsur visual adalah dua strategi yang bisa diterapkan untuk merangkul pemilih pemula dalam Pemilihan Umum Serentak mendatang.

"Dua sisi yang mesti diperhatikan adalah penggunaan medium penyampai pesan serta isi pesan itu sendiri," kata Ketua Program Studi Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Iding Rosyidin.

Menurut Iding dari sisi medium, salah satu cara paling memungkinkan menggaet suara pemilih pemula adalah pendekatan menggunakan bahasa mereka dengan memanfaatkan media sosial.

"Beberapa survei penggunaan platform media sosial mereka yang berusia 21 tahun ke bawah lebih banyak menggunakan YouTube, Instagram, Facebook, dan Twitter. Sekarang bahkan mulai bergeser ke TikTok," jelasnya.

Menyikapi hal tersebut, lanjut Iding, partai politik atau pihak-pihak terkait penyelenggaraan dan sosialisasi Pemilu mendatang mesti mencermati peran media sosial guna menggaet partisipasi Generasi Z (Gen Z).

Beberapa lembaga penelitian menyatakan Gen Z adalah generasi yang lahir pada rentang tahun 1996 hingga 2009, bahkan ada yang mencantumkan hingga tahun 2012. Mengacu rentang waktu tersebut, maka kisaran usia Gen Z saat ini adalah usia 11 tahun hingga 28 tahun.

Secara umum Generasi Z, kata Iding, cenderung memilih sikap apolitik dalam arti tidak concern dengan isu-isu yang bersifat politik. Generasi ini lebih tertarik berinteraksi di media sosial dengan melahap isu-isu yang bersifat sosial di luar politik.

"Semisal gaya hidup, pekerjaan, dan sebagainya. Sehingga kalau diajak bicara yang sifatnya substantif atau serius, generasi ini cenderung kurang begitu suka," jelasnya.

Karenanya, kata Iding yang juga Ketua Umum Asosiasi Program Studi Ilmu Politik Indonesia, esensi pesan yang disampaikan lewat media sosial semestinya dibuat semenarik mungkin lewat visual yang kaya.

"Sosialisasi Pemilu misalnya, akan lebih mengena dengan konten yang dikemas lewat visual dan musik latar menarik tanpa menghilangkan substansi sehingga mereka senang," ungkapnya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tiga Caleg Pendatang Baru Punya Peluang Mendulang Suara Pemilih Milenial dan GenZ di DPRD Dapil 7 Sulsel

Jangan lupa ikuti kami di

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Trending Now

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Iklan