timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Mengenal MHM Sosok Gembong Pencurian Lintas Kabupaten Tahun 80an Asal Bone Dikenal Licin Tak Pernah Tertangkap Polisi

Baca Juga

Wiwink-Daerah, Senin 19 September 2022 07:29 WIB

Ilustrasi


TIMURKOTA.COM, BONE- Duduk disebuah rumah kebun sambil mengisap rokok. Penglihatannya tak tajam lagi, kulitnya mulai mengeriput, rambutnya memutih, hanya beberapa helai saja yang masih berwarna hitam.


Namun dipingganya tak pernah ketinggalan parang panjang yang selalu menemaninya dikala beraktivitas di kebun. Beraktivitas seadanya, paling menjaga sayuran agar tak dimakan ternak.

Berjalan pun harus menggunakan tongkat. Ia tak lagi agresif, seperti ketika menangkap ternak sapi, menjinakkan kerbau, menjinakkan kuda.

Dia adalah MHM (minta namanya diinisialkan). Sekadar perkenalan MHM dikalangan premanisme dan pencurian temasuk dalam kategori lintas Kabupaten. Area operasinya adalah Kabupaten Maros, Bone, Sinjai hingga Kabupaten Gowa.

Kepada penulis, pria yang berusia hampir seabad ini menceritakan pengalamannya di dunia hitam pada tahun 70-80 an. MHM beberapa kali menolak menceritakan kisah perjalanan hidupnya dengan alasan akan menjadi aib bagi anak cucunya. 

Namun setelah penulis menjelaskan bahwa kisahnya akan dijadikan sebagai cerminan kepada generasi bangsa untuk tidak melakukan hal sama akhirnya kakek yang mengaku memiliki 15 cucu ini mau terbuka.

MHM mengisahkan, awal memulai terjun ke dunia hitam ketika ia masih berusia remaja. Ia diminta oleh pamannya menjemput 10 ekor kuda di hutan perbatasan Bone-Maros untuk di bawa ke wilayah Bone Selatan.

"Namanya anak-anak, saya dengan tiga saudara sepupu datang ambil itu kuda. Kemudian bawa ke tanah lau (Bone Selatan) dekat Bulu Kalamiseng ( Gunung Kalamiseng) di sana ada utusan dari Tonra yang jemput," katanya sembari mengusap keringat di wajahnya.

Aktivitas itu terus dilakukan hingga beberapa tahun ke mudian, dia harus berpisah dengah tiga sepupunya karena memiliki peran berbeda. Saudara sepupunya sudah ada yang pindah area operasinya. 

"Kami berpikir bahwa ketika masih sama-sama maka rawan ketahuan. Akhirnya dua sepupu saya memilih tinggal di Kahu mereka ada komplotan di sana. Yang satunya pindah ke Camba dan saya berdua masih tetap di kampung," katanya dengan suara tak terlalu jelas pasalnya giginya sudah tak utuh lagi.

Untuk menambah kekuatan baru, MHM merekrut remaja-remaja yang ada di kampung halamannya untuk dipekerjakan.

Ia mengaku pertama kali melihat darah manusia ketika dua saudara sepupunya dieksekusi polisi lantaran ketahuan terlibat pencurian.

"Dulu nak, ada dibilang garis merah. Kalau seseorang sudah disebut garis merah, kalau tidak lari sembunyi ke kota. Dia akan dieksekusi petugas, tidak berlaku pengadilan, yang ada mereka ditembak. Dulu hansip saja bawa senjata laras panjang," kisah dia.

Setelah dua saudara sepupunya tewas tertembak. MHM memilih lari ke wilayah Camba kampung Laiya, kemudian berjalan kaki tembus ke suatu kampung di Gunung Bollangi, Kabupaten Gowa.

"Di kampung yang saya datangi itu penghuninya semua orang dicari polisi di wilayah selatan. Enam bulan kemudian, saya putuskan kembali ke wilayah Bone. Alasannya di sana hidup makin susah buat makan saja tidak ada. Kemudian kami berkomitmen tidak boleh ada mengambil barang milik warga karena di sanalah tempat kami sembunyi," tukas dia.

Lantas MHM kembali ke markasnya di wilayah perbatasan Bone-Maros untuk membentuk kekuatan baru. Kali ini, ia bergabung dengan hampir semua pelaku premanisme dari berbagai daerah.

"Hampir semua kecamatan ada di kelompok saya. Dari tanah Wajo saja ada.  Yang di Bone tak perlu saya sebutkan namanya. Ini menjaga aib buat anak dan cucu mereka. Sudah banyak tinggi sekolahnya bahkan ada jadi polisi," ujar sambil tertawa melihat dua ayam jago bertarung di depan gubuknya, "Itu yang putih pasti kalah," dia bilang.

MHM mengaku pernah dikejar polisi dan harus bersembunyi di Gua selama satu tahun. Dia makan dengan cara berburu rusa dan ternak sapi hasil curian.

"Pernah suatu ketika, adek ipar saya diam-diam datang bawakan makanan. Waktu itu saya sangka polisi, saya lari nanti setelah lama kejar-kejaran baru saya sadar kalau yang datang saudara saya," tukas dia.

Penulis menanyakan, cara dia bersembunyi sehingga tak pernah tertangkap polisi selama beroperasi.

"Dulu saya punya kebun, dari pagi sampai magrib kami ada terus di sana. Semua orang memihat, pas habis magrib kami jalan kaki ke wilayah sasaran di Camba atau Kahu subuh sudah ada lagi di kebun. Jadi orang tak ada curiga," lanjutnya.

Setelah hampir dua jam bercerita dengan santai diselingi tawa. Tiba-tiba raut wajah MHM berubah. Kali ini, dia tampak serius.

Ia kemudian menyebut dirinya melakukan aksi kejahatan karena keadaan. Di masa remaja dia, makan saja susah.

"Itu batang padi belum mengering, beras orang tuaku sudah habis. Kami bersaudara 9 orang, jika tak melakukan aksi pencurian maka kami mati kelaparan," katanya.

Dia berpesan, di masa sekarang. Tidak boleh lagi ada remaja atau orang melakukan aksi seperti dia lakukan di masa muda.

"Sekarang, hanya orang bodoh yang mau mencuri. Gampang sekali kita dapatkan uang. Hukum juga makin diperketat, jadi cari saja rejeki halal. Jangan pernah ikuti jejak-jejak kami ini," katanya lagi.

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close