timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Usai Minta Maaf Soal Jenazah Bayi Dibonceng Motor, Dirut RS Pancaitana Berhentikan Sopir Ambulans

Wiwink-Berita Viral, Senin 7 Februari 2022 08: 55 WIB

Dirut RS Pancaitana, drg Syamsiar saat menyampaikan permohonan maaf melalui media di Kantor DPRD Bone


TIMURKOTA.COM, BONE- Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pihak RS Pancaitana yang dipimpin langsung Direktur, drg Syamsiar melahirkan beberapa poin penting terkait dengan peningkatan pelayanan di internal rumah sakit. 


Salah satu poin penting adalah menghentikan sopir ambulans yang bertugas pada saat terjadi insiden, Asdar membonceng jenazah bayinya ke Kabupaten Sinjai lantaran tak mampu membayar sewa ambulans Rp700 ribu.

"Jadi bukan dipecat tapi diistrahatkan atau diberhentikan sementara sembari mencari posisi yang paling cocok buat yang bersangkutan," beber, Kepala Bagian Administrasi RS Pancaitana, Fahruddin.

Direktur Menyampaikan Permohonan Maaf


Direktur Rumah Sakit Datu Pancaitana Bone, drg Syamsiar meminta maaf atas peristiwa seorang ayah membonceng jenazah bayinya lantaran tak mampu membayar sewa mobil ambulans.

Menurutnya, apa yang dialami Asdar orang tua bayi yang meninggal semestinya tak terjadi jika saja koordinasi atau komunikasi berjalan dengan baik.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, ia mengutus tiga orang bidannya untuk datang langsung ke rumah duka di Kabupaten Sinjai meminta maaf secara langsung.

"Melalui media ini juga, kami meminta maaf bila mana ada pelayanan dari RS Pancaitana yang kurang berkenang. Saya jamin kejadian ini tidak akan terulang lagi ke depan," katanya, Rabu (02/02/22) di Kantor DPRD Kabupaten Bone.

Aktivis Minta Dievaluasi

Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bone,  Muhammad Nurwan Tifta menyoroti adanya warga yang mengangkut jenazah bayinya menggunakan sepeda motor setelah tak mampu membayar sewa ambulans di Rumah Sakit Datu Pancaitana Bone.

Menurut Nurwan, pihak manajemen RS Pancaitana telah gagal dalam hal memanusiakan manusia. Olehnya itu, dia meminta agar pemerintah daerah segera melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap manajemen rumah sakit.

"Kami meminta sesegera mungkin pihak RSUD Pancaitana meminta maaf kepada korban dan menjelaskan kepada publik kejadian yang sebenarnya, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Bone segera mengevaluasi Dirut sampai ke bawah." katanya menjelaskan.

Insiden yang terjadi telah mencoreng nama baik Kabupaten Bone, terlebih lagi korban merupakan rujukan dari Rumah Sakit Kabupaten Sinjai yang semestinya mendapat pelayanan maksimal tanpa dibedakan dengan pasien lain.

"Korban ini dari luar daerah, jadi jelas bukan hanya mencoreng pihak RSUD Pancaitana, juga Kabupaten Bone secara luas. Jika hal ini tidak diindahkan maka kami meminta pemerintah harus memberi sanksi tegas kepada Dirut RSUD Pancaitana berupa pencopotan dari jabatannya," tegas, Nurwan.

Dia juga mengatakan, terkait dengan prosedur penggunaan ambulans yang mesti dibayar sewanya sesuai dengan jarak tempuh yang dilalui. Itu tak dapat dijadikan alasan, apalagi korban siap membayar, hanya saja uang yang dimiliki tak cukup.

"Kami paham bahwa segala hal tentu ada prosedurnya. Namun jangan sampai alasan prosedur sehingga mengesampingkan hati nurani dan melakukan hal yang tidak manusiawi." katanya lagi.

Tak Mampu Bayar Sewa Ambulans

Lantaran tak mampu membayar sewa ambulans sebesar Rp700 ribu. Asdar harus membonceng jenazah bayinya dari Rumah Sakit Datu Pancaitana, Kabupaten Bone ke Kelurahan Samataring, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai.

Menurut pengakuan Asdar, dirinya hanya memiliki uang sebesar Rp600 ribu. Sementara sewa ambulans dipatok Rp700 ribu. Ia bahkan sempat memohon kepada pihak rumah sakit agar diberi kompensasi namun tak direspon.

Karena kondisi bayi sudah meninggal dan secepatnya harus dikebumikan. Ia kemudian memutuskan untuk mengangkut menggunakan sepeda motor sampai di kampung halamannya.

Asdar yang mengaku hanya sebagai buruh lepas kesulitan keuangan apalagi sejak anaknya sakit, ia tak aktif bekerja sehingga pemasukan tak ada sama sekali.

"Memang tidak mau diberi. Kami sudah minta agar diberi kebijakan karena saat itu uang yang saya pegang betul-betul hanya Rp600 ribu. Namun permintaan itu tidak dikabulkan, hingga saya putuskan gunakan motor saya," katanya menjelaskan.

Sementara itu pihak Rumah Sakit Pancaitana mengklaim hal itu terjadi akibat terjadinya kesalahfahaman antara sopir ambulans dengan pihak manajemen rumah sakit.

"Harusnya cepat dikomunikasikan, antara sopir dan manajemen rumah sakit." Kata, Fahruddin bagian administrasi RS Pancaitan.

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close