![]() |
| Ilustrasi eskpor jagung (dok) |
TIMURKOTA.COM, MAKASSAR- Petani jagung di Sulawesi Selatan menyambut gembira kabar ekspor jagung ke Filipina yang mulai direalisasikan pada akhir November 2025.
Ekspor ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani sekaligus membuka peluang pasar baru untuk produk lokal.
Pemerintah daerah bekerja sama dengan pelaku usaha dan eksportir memastikan kualitas jagung Sulsel sesuai standar internasional.
Selain meningkatkan nilai jual, ekspor ini juga diharapkan memacu petani untuk meningkatkan produktivitas melalui praktik pertanian modern dan pengelolaan pascapanen yang lebih baik.
Dengan langkah ini, Sulsel semakin memperkuat posisi sebagai salah satu sentra jagung nasional.
Kabar gembira bagi petani jagung khususnya di Provinsi Sulawesi Selatan. Di tengah pandemi Covid-19, Kementerian Pertanian RI melalui Karantina Pertanian Makassar mulai mengekspor jagung sebanyak 24, 16 juta ton pada priode tahun 2020.
Hasil pertanian terbanyak yang akan terserap berasal dari beberapa kabupaten di Sulsel diantaranya, Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Jeneponto, Wajo, dan Pinrang.
Komoditas asal sub sektor hortikultura senilai Rp 24,7 miliar ini diberangkatkan dari Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta Makassar.
“Alhamdulilah, ini adalah kali pertama ekspor setelah dua tahun sempat vakum,” kata Kepala Karantina Pertanian Makassar, Andi Yusmanto saat menyerahkan sertifikat fitosanitari sebagai persyaratan ekspor negara tujuan kepada eksportir, PT SAU.
Di tahun 2019 tidak ada fasilitas ekspor jagung dilakukan setelah ditahun 2018 Sulsel berhasil mengeskpor jagung biji sebanyak delapan kali dengan volume 61,8 ribu ton.
“Setelah melalui serangkaian tindakan karantina termasuk fumigasi untuk menghilangkan serangga hama gudang dan persyaratan negara tujuan terpenuhi, jagung biji bisa segera diekspor,” kata Yusmanto menjelaskan.
Dengan demikian maka secara tidak langsung, dapat menstabilkan harga jagung saat panen. Petani tak lagi khawatir terjadi penurunan harga secara drastis.
“Ekspor jagung telah mendapat rekomendasi ditjen teknis dan ini juga merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas harga disaat panen raya,” jelasnya.
(rill/as)
Hasil pertanian terbanyak yang akan terserap berasal dari beberapa kabupaten di Sulsel diantaranya, Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Bone, Jeneponto, Wajo, dan Pinrang.
Komoditas asal sub sektor hortikultura senilai Rp 24,7 miliar ini diberangkatkan dari Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta Makassar.
“Alhamdulilah, ini adalah kali pertama ekspor setelah dua tahun sempat vakum,” kata Kepala Karantina Pertanian Makassar, Andi Yusmanto saat menyerahkan sertifikat fitosanitari sebagai persyaratan ekspor negara tujuan kepada eksportir, PT SAU.
Di tahun 2019 tidak ada fasilitas ekspor jagung dilakukan setelah ditahun 2018 Sulsel berhasil mengeskpor jagung biji sebanyak delapan kali dengan volume 61,8 ribu ton.
“Setelah melalui serangkaian tindakan karantina termasuk fumigasi untuk menghilangkan serangga hama gudang dan persyaratan negara tujuan terpenuhi, jagung biji bisa segera diekspor,” kata Yusmanto menjelaskan.
Dengan demikian maka secara tidak langsung, dapat menstabilkan harga jagung saat panen. Petani tak lagi khawatir terjadi penurunan harga secara drastis.
“Ekspor jagung telah mendapat rekomendasi ditjen teknis dan ini juga merupakan bagian dari strategi menjaga stabilitas harga disaat panen raya,” jelasnya.
(rill/as)


