timurkota.com

timurkota.com

Terdepan Mengabarkan

Diganjar Pasal Berlapis, Daeng Tantu Bakal Nikmati Masa Tuanya di Penjara

Daeng Tantu usai ditangkap polisi. Disisi lain korban tewas pasca diparangi (dok)

TIMURKOTA.COM, KOLAKA-


Pelaku pembunuhan Daeng Tantu Alias Nasir (54) tampaknya bakal mendekam lama di balik jeruji besi, diusianya yang sudah berkepala lima. 

Dirinya diganjar pasal berlapis usai menghabisi dua orang bersaudara,  Sidung dan Haking.

Paur Humas Polres Kolaka, Bripka Riswandi mengatakan,  Daeng di ganjar Pasal 351 Ayat 3 Subsider pasal  338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

"Ancaman hukuman sekian,  namun kami masih terus melakukan penyidikan," ungkapnya menjelaskan.

Kasus pembunuhan yang melibatkan Daeng Tantu Alias Nasir (54) sebagai pelaku dan dua korban Haking dan Sidung rupanya masih ada hubungan ikatan emosional.

Setidaknya mereka berasal dari daerah yang sama yakni Kabupaten Bulukumba. Hal itu disampaikan warga Desa Ladahai, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra)

"Sangat disayangkan, mereka ini sama-sama perantau dari Kajang Bulukumba. Merantau ke sini bukannya tinggal dengan akur malah mereka bertikai dan akhirnya dua nyawa melayang," kata, Basri Ilham menjelaskan ke timurkota.com

Basri mengaku apa yang terjadi terhadap dua perantau satu kampung ini menjadi pelajaran berharga.

"Kalau tidak bisa saling jaga, setidaknya jangan baku bunuh. Tapi mau diapa sudah terlanjur, ini pelajaran bagi kita semua sesama perantau," jelasnya menambahkan.

Daeng Tantu Bukan Orang Sembarangan


Bukan hanya warga dan pengguna media sosial penasaran dengan kekebalan tubuh Daeng Tantu Alias Nasir (54) pria yang sempat dihantam pakai parang namun tak melukai tubuhnya. 

Bahkan parang terlepas dari tangan Haking terpental dan jatuh ke tanah. Dengan cekatan, Daeng mengambil parang kemudian mengayungkan dan mengenai keher Sidung.

Daeng Tantu kepada polisi membantah terkena parang. Menurutnya dia tak merasa terkena meski sempat diayungkan korban.

"Jadi tidak terkena," Kapolres Kolaka, AKBP Saiful Mustofa.

Namun, Andi Muharram seorang pemangku adat mengatakan apa yang terjadi pada Daeng Tantu merupakan keajaiban.

"Memeng engka pake makkuro ndi (memang ada ilmu begitu dek), orang yang diserang merasa tidak terkena. Sementara kita yang melihat secara kasat mata badannya dihantam benda tajam," ungkapnya menjelaskan.

Jika melihat, dari rentetan peristiwa mulai dari menghabisi korban pertama, Haking hingga Sidung menurut Andi Muharram memang pelaku bukan orang sembarangan.

"Yang meninggal ini masih mudah semua. Jika kekuatan fisik saja, Daeng pasti kalah. Jadi memang pelaku ini kemungkinan besar bukan orang sembarangan. Tapi ini hanya tebak-tebakan karena saya tidak pernah ketemu secara langsung sama beliau (Daeng Tantu)," katanya lagi.

Daeng Tantu Hilang Kesabaran

Sejumlah fakta baru terungkap dalam kasus pembunuhan yang melibatkan Daeng Tantu Alias Nasir (54) sebagai pelaku dan dua korban Haking dan Sidung, di Desa Ladahai, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (23/07/2020) pukul 17.30 Wita.

Daeng Tantu yang ditemui awak media mengatakan, dirinya hilang kesabaran lantaran setiap habis memperbaiki pagar di lahan halaman rumahnya korban selalu datang merusak.

"Awalnya saya sampaikan baik-baik, namun tidak dihiraukan malah korban ambil motor terus dikasi keras-keras suaranya," ungkapnya menjelaskan.

Diperlakukan demikian, Daeng mengaku masih bersabar dan tak langsung bertindak. Namun belakangan, korban melakukan hal sama. Bahkan kali ini saat diperingatkan, salah seorang korban mengajak pelaku duel.

"Di situ saya masih tahan. Namun pas mau ke Masjid salat duhur. Saya tidak bisa menahan emosi waktu melihat korban ke warung," tambah, Daeng menjelaskan dengan suara pelan.

Usai menikam korban nomor satu, Sidung. Dirinya langsung meninggalkan lokasi. Namun sesaat setelahnya, muncul korban ke dua. Haking sambil membawa parang panjang yang kemudian langsung dihunuskan dan dilayangkan dan mengenai punggung Daeng.

Namun ayunan parang itu tak melukai Daeng. Malah parang terlepas dari tangan haking kemudian terjatuh di tanah.

"Saya tikam dulu, baru ambil parang yang jatuh kemudian parangi satu kali," ungkapnya menutup pembicaraan.

Dua Korban Tewas di TKP

Tanpa berpikir panjang pelaku Daeng Tantu menghunuskan badik kemudian menikam korban pertama, Sidung sebanyak tiga kali pada bagian dada.

Korban pun tersungkur seketika dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi. Melihat saudaranya diserang, korban lain Haking melakukan perlawanan namun naas dirinya tak mampu menandingi pelaku hingga dirinya pun tewas diparangi pelaku.

"Haking mengalami luka pada bagian leher dan nyaris putus. Saat itu pula terduga pelaku An. Aso datang dan turut melempar menggunakan batu kepada Haking kemudian korban meninggal dunia di TKP," kata, Kapolres Kolaka, AKBP Saiful Mustofa.

Dipicu Permasalahan Sepele

Pemicu peristiwa berdarah ini dilatar belakangi aksi tak terpuji dari korban yang selalu membuka dan merusak pagar di lahan milik pelaku, Daeng Tantu.

Meski telah diberi peringatan namun aksi korban terus dilakukan. Hingga akhirnya pelaku hilang kesabaran dan melakukan penyerangan secara tiba-tiba saat dirinya hendak ke Masjid.

"Pelaku merasa resah terhadap perilaku kedua korban karena lokasi tanah yang telah dipagar oleh tersangka selalu dibuka pagarnya oleh korban sehingga pelaku merasa jengkel," ungkap, kapolres menambahkan.

Pelaku Dibantu Anaknya Bernama Aso

Keterlibatan Aso (35) dalam perkara ini yakni ketika dirinya datang membantu pelaku utama, Daeng.

Mendapat kabar bahwa ayah kandungnya terlibat permasalahan, Aso kemudian bergegas ke TKP.

Melihat ayahnya terlibat perkelahian dirinya langsung membantu dengan cara melempar batu dan mengenai bagian kepala korban, Haking.

Daeng Tantu Dipercaya Memiliki Ilmu Kebal

Usai insiden berdarah, muncul cerita di kalangan masyarakat setempat bahwa, Daeng Tantu memiliki ilmu kebal sehingga tak mengalami luka. Meski dirinya sempat diparangi oleh Haking.

Menurut saksi mata yang menyaksikan langsung perisitwa tersebut. Mereka melihat langsung detik-detik, Haking memarangi bagian punggung Daeng Tantu.

"Tidak tembus, malah parang seakan terpantul kemudian terlepas dari tangan, Sidung. Pasti Daeng punya ilmu kebal," ungkap warga, Tiro.

Tiro melanjutkan, alasan bahwa Daeng tidak mampu ditembus karena parang digunakan Sidung tumpul terbantahkan.

"Awalnya saya juga mengira karena parang tumpul. Tapi pas direbut, Daeng malah parang tajam sekali karena satu kali tebasan saja leher Haking malah hampir putus," tambahnya menjelaskan.

Dua Pelaku Ditangkap Polisi Tanpa Perlawanan

Daeng Tantu dan Aso telah diamankan pihak Polres Kolaka. Keduanya ditahan dan selanjutnya akan menjalani proses hukum di Kepolisian Resort Kolaka.

"Selain menangkap pelaku kami juga telah menyita barang bukti sebilah parang yang digunakan untuk menganiaya kedua pelaku." Kata Kapolres melanjutkan.

(rill/as)









Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close