timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Cek Fakta. Daeng Tantu Tak Kebal. Keluarga Korban Ungkap Kronologi Sebenarnya...

Pelaku pembunuhan Daeng Tantu Alias Nasir (54)
TIMURKOTA.COM, KOLAKA-


Sesuai dengan laporan resmi pihak korban pembunuhan dua bersaudara Sidung dan Haking. Kronologi pembunuhan yang belakangan viral di media sosial berbeda dengan versi keluarga.

Dalam laporan keluarga korban yang diwakili, Firman. Kasus pembunuhan ini bermula saat Sidung ke rumah warga bernama Rizal pada pukul 16.30 Wita. 

Setiba di rumah Rizal, korban Sidung diserang oleh pelaku secara tiba-tiba menggunakan senjata tajam jenis badik.

Sesaat setelah Sidung tergeletak usai ditikam, muncul saudaranya bernama Hakim (Haking) berteriak dengan mengatakan dimana Nasir. Teriakan itu dilontarkan Haking tepat di depan rumah warga bernama, Amir.

"Selanjutnya datang Asrun (Aso) menyerang Haking dengan cara dilempar batu dan mengenai bagian kepala. Usai dilempar batu, Haking terjatuh dan tak sadarkan diri. Kemudian Daeng Tantu mendekat dan menikam korban, terus mengambil parang yang jatuh lalu ditebas lehernya," ungkap, Firman dalam laporan yang dibuat di Mapolres Kolaka.


Pelaku pembunuhan Daeng Tantu Alias Nasir (54) tampaknya bakal mendekam lama di balik jeruji besi, diusianya yang sudah berkepala lima. 

Dirinya diganjar pasal berlapis usai menghabisi dua orang bersaudara,  Sidung dan Haking.

Paur Humas Polres Kolaka, Bripka Riswandi mengatakan,  Daeng di ganjar Pasal 351 Ayat 3 Subsider pasal  338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

"Ancaman hukuman sekian,  namun kami masih terus melakukan penyidikan," ungkapnya menjelaskan.

Kasus pembunuhan yang melibatkan Daeng Tantu Alias Nasir (54) sebagai pelaku dan dua korban Haking dan Sidung rupanya masih ada hubungan ikatan emosional.

Setidaknya mereka berasal dari daerah yang sama yakni Kabupaten Bulukumba. Hal itu disampaikan warga Desa Ladahai, Kecamatan Iwoimendaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra)

"Sangat disayangkan, mereka ini sama-sama perantau dari Kajang Bulukumba. Merantau ke sini bukannya tinggal dengan akur malah mereka bertikai dan akhirnya dua nyawa melayang," kata, Basri Ilham menjelaskan ke timurkota.com

Basri mengaku apa yang terjadi terhadap dua perantau satu kampung ini menjadi pelajaran berharga.

"Kalau tidak bisa saling jaga, setidaknya jangan baku bunuh. Tapi mau diapa sudah terlanjur, ini pelajaran bagi kita semua sesama perantau," jelasnya menambahkan.



(rill/as)





Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close