Iklan

Ketika Penghargaan Kehilangan Makna: Saatnya Pemerintah Kembali pada Sistem Merit

Redaksi-timurkota
Jumat, Juli 03, 2026 | 7:34 PM WIB Last Updated 2026-07-03T12:34:28Z



Oleh: Dr. Herman, S.Sos., M.Si.

Setiap kali menghadiri kegiatan pemerintahan, kita hampir selalu menyaksikan agenda yang sama: penyerahan penghargaan. 

Ada penghargaan bagi organisasi perangkat daerah terbaik, penghargaan bagi pegawai teladan, penghargaan atas inovasi pelayanan, bahkan penghargaan karena berhasil menyelesaikan suatu program kerja yang sebenarnya merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi instansi tersebut. 

Fenomena ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang menarik untuk didiskusikan. 

Apakah setiap keberhasilan pemerintah memang layak diberi penghargaan? Ataukah penghargaan mulai kehilangan makna karena terlalu mudah diberikan?

Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, jika dikaji dari perspektif administrasi publik, jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Penghargaan bukan hanya selembar piagam atau sebuah trofi. 

Penghargaan adalah instrumen manajemen yang memiliki fungsi strategis untuk membentuk budaya organisasi, meningkatkan motivasi kerja, dan mengarahkan perilaku aparatur menuju kinerja yang lebih baik. 

Oleh karena itu, penghargaan tidak boleh diberikan hanya karena sebuah instansi menjalankan kewajiban yang memang telah diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.

Bukankah memberikan penghargaan dapat meningkatkan semangat kerja pegawai?

Jawabannya adalah ya, tetapi dengan satu syarat penting, yaitu penghargaan harus diberikan secara tepat. 

Penghargaan yang diberikan kepada orang yang tepat, pada waktu yang tepat, dan atas prestasi yang benar-benar layak diapresiasi akan menjadi sumber motivasi yang sangat kuat. 

Sebaliknya, penghargaan yang diberikan tanpa ukuran yang jelas justru dapat menimbulkan persoalan baru dalam organisasi.

Fenomena tersebut telah lama dijelaskan oleh Frederick Herzberg melalui Two Factor Theory. Herzberg menempatkan recognition atau pengakuan sebagai salah satu faktor yang mampu meningkatkan motivasi seseorang. 

Pengakuan yang dimaksud bukanlah penghargaan yang diberikan secara rutin kepada semua orang, melainkan penghargaan atas prestasi yang menunjukkan nilai tambah bagi organisasi. 

Artinya, seseorang memperoleh penghargaan karena menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari standar yang telah ditetapkan, bukan sekadar karena berhasil menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

Jika kita renungkan lebih jauh, bukankah seorang aparatur sipil negara memang telah disumpah untuk menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab? Bukankah seorang kepala dinas memang berkewajiban melaksanakan program kerja sesuai target yang telah ditetapkan? Bukankah seorang camat memang harus memberikan pelayanan kepada masyarakat? Jika demikian, apakah menyelesaikan tugas pokok sudah cukup menjadi alasan untuk menerima penghargaan?

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian. Dalam praktik birokrasi, terdapat kecenderungan menyamakan antara kewajiban dan prestasi. 

Padahal keduanya merupakan konsep yang berbeda. Kewajiban adalah sesuatu yang memang harus dilaksanakan karena menjadi bagian dari tanggung jawab jabatan. 

Sebaliknya, prestasi adalah capaian yang melampaui standar, menghasilkan inovasi, memberikan dampak nyata, atau menciptakan perubahan positif bagi organisasi maupun masyarakat.

Sebagai contoh, apabila sebuah dinas berhasil menyelesaikan seluruh program kerja sesuai target tahunan, sesungguhnya dinas tersebut telah melaksanakan kewajibannya. 

Namun apabila dinas tersebut mampu menghadirkan inovasi pelayanan yang memangkas waktu pelayanan dari lima hari menjadi satu hari, meningkatkan kepuasan masyarakat secara signifikan, atau menciptakan sistem digital yang menghemat anggaran pemerintah, maka capaian tersebut layak disebut sebagai prestasi. 

Perbedaan inilah yang sering kali menjadi kabur dalam praktik pemberian penghargaan di berbagai institusi.

Apa dampaknya jika penghargaan diberikan kepada setiap orang yang hanya menjalankan kewajibannya?

Sekilas mungkin tidak ada masalah. Semua pegawai merasa senang, pimpinan terlihat memberikan apresiasi, dan suasana organisasi tampak harmonis. 

Namun dalam jangka panjang, penghargaan yang terlalu mudah diberikan justru dapat kehilangan daya dorongnya. 

Penghargaan tidak lagi dipandang sebagai simbol atas pencapaian luar biasa, melainkan sebagai sesuatu yang biasa, bahkan dianggap sebagai rutinitas tahunan.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Reinforcement Theory yang dikemukakan oleh B.F. Skinner. 

Menurut Skinner, penghargaan merupakan bentuk positive reinforcement, yaitu penguatan terhadap perilaku yang diharapkan agar perilaku tersebut terus diulangi. 

Akan tetapi, efektivitas reinforcement sangat bergantung pada kualitas perilaku yang diberi penghargaan. 

Jika penghargaan diberikan kepada perilaku yang sebenarnya merupakan standar minimal pekerjaan, maka organisasi justru sedang memperkuat budaya kerja yang biasa-biasa saja. 

Sebaliknya, apabila penghargaan hanya diberikan kepada mereka yang menunjukkan inovasi, integritas, dan hasil kerja luar biasa, maka organisasi akan terdorong untuk terus meningkatkan kualitas kinerjanya.

Dengan kata lain, penghargaan seharusnya menjadi alat untuk mendorong aparatur melampaui target, bukan sekadar mencapai target. Penghargaan harus menjadi simbol keunggulan, bukan simbol rutinitas.

Mengapa masih banyak pemerintah atau organisasi yang begitu mudah memberikan penghargaan? Apakah karena ingin memotivasi pegawai? Apakah karena ingin membangun citra organisasi? Ataukah karena penghargaan telah berubah menjadi bagian dari budaya seremonial birokrasi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut layak menjadi bahan refleksi bersama. Sebab, jika penghargaan kehilangan maknanya, maka birokrasi juga kehilangan salah satu instrumen terpenting untuk membangun budaya kerja yang unggul. 

Penghargaan yang seharusnya menjadi simbol prestasi luar biasa bisa berubah menjadi formalitas administratif yang tidak lagi mampu menginspirasi aparatur untuk memberikan kinerja terbaiknya.

Mengapa pemerintah harus begitu selektif dalam memberikan penghargaan? Bukankah semakin banyak penghargaan berarti semakin tinggi motivasi pegawai?

Sekilas anggapan tersebut tampak logis. Tidak sedikit pimpinan yang meyakini bahwa semakin banyak penghargaan diberikan, semakin besar pula semangat kerja pegawai. 

Akan tetapi, teori administrasi publik dan perilaku organisasi justru menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Motivasi bukan hanya ditentukan oleh banyaknya penghargaan, tetapi juga oleh kualitas, keadilan, dan makna penghargaan itu sendiri.

Pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah, mengapa sebagian pegawai tetap merasa kurang termotivasi meskipun instansinya sering memberikan penghargaan?

Jawabannya dapat dijelaskan melalui Expectancy Theory yang dikemukakan oleh Victor H. Vroom (1964). 

Vroom menjelaskan bahwa seseorang akan terdorong untuk bekerja lebih baik apabila ia percaya bahwa usaha yang dilakukan akan menghasilkan kinerja yang tinggi, dan kinerja tersebut akan memperoleh penghargaan yang bernilai. 

Dengan kata lain, pegawai akan termotivasi apabila terdapat hubungan yang jelas antara usaha, prestasi, dan penghargaan.

Namun, bagaimana jika penghargaan diberikan kepada semua orang tanpa membedakan kualitas pencapaiannya?

Hubungan antara usaha dan penghargaan menjadi kabur. Pegawai yang bekerja biasa-biasa saja memperoleh penghargaan yang sama dengan pegawai yang bekerja melampaui target. 

Dalam kondisi seperti itu, mengapa seseorang harus bekerja lebih keras jika hasil akhirnya tetap sama? 

Pertanyaan inilah yang sering kali tidak disadari oleh banyak organisasi. Lebih jauh lagi, J. Stacy Adams melalui Equity Theory memberikan penjelasan yang sangat relevan dengan kondisi birokrasi saat ini. 

Adams menyatakan bahwa pegawai selalu membandingkan antara kontribusi yang mereka berikan dengan penghargaan yang diterima, sekaligus membandingkannya dengan rekan kerja lainnya. 

Apabila mereka merasa penghargaan diberikan secara tidak adil, maka akan muncul rasa kecewa, menurunnya motivasi, bahkan hilangnya kepercayaan terhadap organisasi.

Bayangkan dua orang pegawai. Pegawai pertama bekerja sesuai jam kerja, menyelesaikan tugas rutinnya, dan memenuhi target minimal. 

Pegawai kedua tidak hanya menyelesaikan pekerjaannya, tetapi juga menciptakan inovasi pelayanan, menghemat anggaran, membimbing rekan kerja, serta menghasilkan perubahan yang dirasakan masyarakat.

Apabila keduanya menerima penghargaan yang sama, apakah itu mencerminkan keadilan?

Jawabannya tentu menjadi bahan perdebatan. Dari perspektif Equity Theory, kondisi tersebut justru dapat menimbulkan persepsi ketidakadilan. Pegawai yang berprestasi akan bertanya, 

"Mengapa saya harus bekerja lebih keras jika penghargaan yang diterima sama dengan mereka yang hanya memenuhi kewajiban?" 

Sebaliknya, pegawai yang kurang produktif akan merasa bahwa bekerja pada tingkat minimum sudah cukup karena peluang memperoleh penghargaan tetap terbuka.

Fenomena tersebut berpotensi melahirkan apa yang disebut sebagai budaya mediokritas, yaitu budaya organisasi yang merasa puas pada pencapaian standar dan kehilangan dorongan untuk terus berinovasi. 

Dalam birokrasi modern, kondisi ini tentu menjadi tantangan serius karena masyarakat semakin menuntut pelayanan publik yang cepat, berkualitas, dan adaptif terhadap perubahan.

Lalu muncul pertanyaan berikutnya, bukankah pemerintah juga perlu memberikan apresiasi agar pegawai merasa dihargai?

Tentu saja perlu. Bahkan dalam konsep Public Service Motivation yang dikembangkan oleh James L. Perry, penghargaan tetap memiliki peran penting dalam memperkuat semangat aparatur untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. 

Namun, Perry menekankan bahwa motivasi aparatur publik tidak hanya berasal dari penghargaan formal, melainkan juga dari kesempatan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, memperoleh pengakuan yang layak, serta bekerja dalam organisasi yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan integritas.

Artinya, bentuk apresiasi tidak selalu harus berupa piagam, trofi, atau seremoni resmi. Seorang pimpinan dapat memberikan penghargaan melalui kepercayaan yang lebih besar, kesempatan mengikuti pelatihan, promosi berdasarkan kompetensi, atau pengakuan atas ide dan inovasi yang berhasil meningkatkan kualitas pelayanan publik. 

Bentuk-bentuk apresiasi seperti ini sering kali memiliki dampak yang lebih kuat dibandingkan penghargaan yang bersifat simbolis.

Dalam konteks birokrasi Indonesia, prinsip tersebut sebenarnya telah diakomodasi melalui sistem merit. Sistem merit menghendaki bahwa setiap keputusan mengenai pengembangan karier, promosi, maupun penghargaan harus didasarkan pada kualifikasi, kompetensi, integritas, dan kinerja, bukan pada hubungan personal, formalitas, atau pertimbangan nonobjektif. 

Dengan demikian, penghargaan bukan sekadar bentuk penghormatan, tetapi menjadi instrumen untuk memperkuat profesionalisme aparatur.

Mengapa sistem merit menjadi begitu penting dalam pemberian penghargaan?
Karena sistem merit memastikan bahwa penghargaan diberikan kepada mereka yang benar-benar layak menerimanya. 

Ketika penghargaan diberikan secara objektif, aparatur akan memahami bahwa setiap prestasi memiliki nilai dan setiap inovasi memperoleh pengakuan. 

Sebaliknya, apabila penghargaan diberikan tanpa indikator yang jelas, organisasi berisiko kehilangan kepercayaan dari pegawainya sendiri.

Di sisi lain, pemerintah juga perlu berhati-hati agar penghargaan tidak berubah menjadi ajang pencitraan. 

Tidak dapat dimungkiri bahwa dalam praktik birokrasi modern, penghargaan sering dijadikan indikator keberhasilan organisasi. 

Padahal, penghargaan seharusnya menjadi konsekuensi dari kinerja yang baik, bukan tujuan utama organisasi. 

Fokus utama birokrasi tetaplah menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Masyarakat pada akhirnya tidak akan menilai pemerintah dari banyaknya piagam yang dipajang di dinding kantor. 

Masyarakat akan menilai pemerintah dari cepat atau lambatnya pelayanan, mudah atau sulitnya mengurus administrasi, bersih atau tidaknya birokrasi dari praktik maladministrasi, serta sejauh mana kebijakan pemerintah mampu meningkatkan kesejahteraan mereka. 

Oleh karena itu, penghargaan harus menjadi cerminan dari kualitas pelayanan tersebut, bukan sekadar simbol keberhasilan administratif.

Dengan demikian, pemberian penghargaan yang selektif bukan berarti pemerintah pelit memberikan apresiasi. Justru sebaliknya, selektivitas menunjukkan bahwa pemerintah menghormati makna sebuah penghargaan. 

Ketika penghargaan diberikan kepada individu atau organisasi yang benar-benar menghasilkan perubahan, penghargaan akan menjadi inspirasi bagi aparatur lain untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Bagaimana seharusnya pemerintah membangun sistem penghargaan yang benar-benar mampu meningkatkan kualitas birokrasi?

Pertanyaan tersebut menjadi penting karena tujuan akhir penghargaan bukanlah menambah jumlah piagam, piala, atau sertifikat yang terpajang di ruang kerja. 

Tujuan utama penghargaan adalah membentuk perilaku organisasi agar semakin profesional, inovatif, berintegritas, dan berorientasi pada pelayanan publik. 

Dengan kata lain, penghargaan merupakan alat untuk menghasilkan perubahan, bukan sekadar perayaan atas suatu pencapaian administratif.

Namun demikian, realitas menunjukkan bahwa tidak sedikit penghargaan di lingkungan birokrasi lebih bersifat seremonial dibandingkan substantif. 

Banyak instansi berlomba-lomba memperoleh penghargaan, tetapi tidak semua penghargaan tersebut berkorelasi langsung dengan meningkatnya kualitas pelayanan kepada masyarakat. 

Bahkan dalam beberapa kasus, masyarakat tidak mengetahui penghargaan apa yang diterima pemerintah, tetapi mereka sangat mengetahui apakah pelayanan di kantor pemerintah mudah atau justru berbelit-belit.

Lalu, ukuran keberhasilan pemerintah sebenarnya apa? Apakah banyaknya penghargaan atau kepuasan masyarakat?

Jawabannya tentu mengarah pada yang kedua. Dalam paradigma New Public Management (NPM) yang diperkenalkan oleh Christopher Hood (1991), organisasi publik tidak lagi diukur berdasarkan banyaknya prosedur yang dijalankan atau banyaknya penghargaan yang diterima, melainkan berdasarkan hasil (results), efisiensi, efektivitas, dan kepuasan masyarakat sebagai pengguna layanan. 

Paradigma ini menggeser orientasi birokrasi dari sekadar menjalankan proses menuju pencapaian kinerja yang nyata.

Artinya, penghargaan seharusnya menjadi konsekuensi dari keberhasilan meningkatkan pelayanan publik, bukan tujuan yang dikejar oleh setiap instansi. 

Jika orientasinya terbalik, maka birokrasi berpotensi lebih sibuk mengejar pengakuan daripada memperbaiki kualitas layanannya.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan David Osborne dan Ted Gaebler (1992) dalam Reinventing Government. 

Mereka menekankan bahwa pemerintah modern harus lebih berorientasi pada hasil daripada aktivitas. Pemerintah tidak cukup hanya bekerja, tetapi harus mampu menunjukkan manfaat nyata dari setiap kebijakan yang dijalankan. 

Dalam konteks penghargaan, ukuran utamanya bukan seberapa banyak program dilaksanakan, tetapi sejauh mana program tersebut memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Pertanyaannya kemudian, apakah setiap keberhasilan layak memperoleh penghargaan?

Jawabannya tidak selalu demikian.
Dalam administrasi publik terdapat perbedaan yang tegas antara output, outcome, dan impact

Banyak organisasi mampu menghasilkan output berupa laporan kegiatan, penyelesaian program, atau penyerapan anggaran. 

Akan tetapi, belum tentu output tersebut menghasilkan outcome berupa peningkatan kualitas pelayanan. Lebih jauh lagi, belum tentu outcome tersebut menghasilkan impact berupa meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Sebagai contoh, sebuah dinas berhasil merealisasikan anggaran hingga 100 persen. Secara administratif, capaian tersebut memang baik. 

Namun, apakah serapan anggaran tersebut berhasil menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan kualitas pendidikan, mempercepat investasi, atau meningkatkan kepuasan masyarakat? 

Jika jawabannya belum, maka keberhasilan tersebut masih perlu dievaluasi sebelum dijadikan dasar pemberian penghargaan.
Sebaliknya, ada instansi yang mungkin tidak banyak tampil dalam seremoni penghargaan, tetapi berhasil menciptakan inovasi sederhana yang benar-benar memudahkan masyarakat. 

Misalnya, memangkas waktu pelayanan dari beberapa hari menjadi beberapa jam, menghadirkan layanan digital yang mudah diakses, atau mengurangi praktik pungutan liar melalui sistem elektronik. 

Inovasi seperti inilah yang sesungguhnya layak memperoleh pengakuan karena memberikan dampak nyata.

Lalu, bagaimana seharusnya pemerintah menentukan penerima penghargaan?

Setidaknya terdapat beberapa prinsip yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, penghargaan harus berbasis kinerja yang terukur. Indikator keberhasilan harus jelas, objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Penghargaan tidak boleh diberikan hanya berdasarkan persepsi atau penilaian subjektif.

Kedua, penghargaan harus berbasis inovasi. Aparatur yang mampu menghadirkan cara baru dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik patut memperoleh apresiasi lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya menjalankan rutinitas pekerjaan.

Ketiga, penghargaan harus berbasis dampak. Semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat, semakin besar pula alasan organisasi untuk memberikan penghargaan.

Keempat, penghargaan harus mendorong budaya belajar. Organisasi sebaiknya tidak hanya mengumumkan siapa yang menjadi pemenang, tetapi juga menjelaskan mengapa mereka layak memperoleh penghargaan sehingga praktik baik tersebut dapat ditiru oleh unit kerja lainnya.

Kelima, penghargaan harus melalui proses evaluasi yang independen. Keterlibatan tim penilai yang profesional akan meningkatkan kredibilitas penghargaan sekaligus memperkuat kepercayaan aparatur terhadap sistem yang berlaku.

Pertanyaan berikutnya, mengapa hal tersebut penting?

Karena penghargaan tidak hanya berdampak kepada penerimanya, tetapi juga kepada seluruh organisasi. 

Ketika penghargaan diberikan kepada orang yang tepat, seluruh pegawai akan melihat adanya hubungan yang jelas antara kompetensi, integritas, inovasi, dan keberhasilan. Hal tersebut akan membangun budaya kompetisi yang sehat.

Sebaliknya, apabila penghargaan diberikan tanpa seleksi yang ketat, aparatur akan kehilangan kepercayaan terhadap sistem. 

Mereka mungkin tetap bekerja, tetapi semangat untuk memberikan kinerja terbaik akan perlahan menurun karena merasa bahwa prestasi luar biasa tidak memperoleh pengakuan yang berbeda dari pekerjaan rutin.

Di sinilah relevansi Max Weber tentang birokrasi rasional. Weber menegaskan bahwa organisasi publik harus dibangun di atas prinsip profesionalisme, aturan yang jelas, kompetensi, dan objektivitas. 

Penghargaan yang berbasis merit merupakan salah satu bentuk implementasi dari birokrasi rasional tersebut. 

Sebaliknya, penghargaan yang didasarkan pada formalitas atau pertimbangan subjektif justru bertentangan dengan semangat profesionalisme yang menjadi ciri birokrasi modern.

Pada akhirnya, penghargaan bukanlah tujuan akhir dari penyelenggaraan pemerintahan. 

Tujuan utama pemerintah adalah menghadirkan pelayanan publik yang berkualitas, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat kepercayaan publik, serta mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). 

Penghargaan hanyalah salah satu instrumen untuk mencapai tujuan tersebut.
Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap sistem penghargaan yang selama ini diterapkan. 

Sudah saatnya penghargaan diberikan secara lebih selektif, objektif, dan berbasis prestasi nyata. 

Penghargaan tidak boleh lagi dipahami sebagai agenda seremonial yang rutin dilakukan setiap tahun, tetapi harus menjadi simbol pengakuan atas dedikasi, inovasi, integritas, dan kontribusi luar biasa bagi masyarakat.

Jika penghargaan kembali ditempatkan pada makna yang sesungguhnya, birokrasi akan memiliki instrumen yang efektif untuk membangun budaya kerja unggul. 

Aparatur akan berlomba menghadirkan inovasi, meningkatkan kualitas pelayanan, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. 

Sebaliknya, apabila penghargaan terus diberikan tanpa selektivitas yang memadai, maka bukan hanya makna penghargaan yang memudar, tetapi juga semangat profesionalisme yang menjadi fondasi utama reformasi birokrasi.

Masyarakat tidak membutuhkan birokrasi yang kaya akan piagam. Masyarakat membutuhkan birokrasi yang kaya akan prestasi, inovasi, dan pelayanan yang benar-benar dirasakan manfaatnya. Di situlah sesungguhnya nilai sebuah penghargaan menemukan makna yang paling hakiki. (*)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ketika Penghargaan Kehilangan Makna: Saatnya Pemerintah Kembali pada Sistem Merit
Next »

Jangan lupa ikuti kami di

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Trending Now

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Iklan

.entry-content { line-height: 1.4em; }