Isi Lengkap Artikel
Kondisi ini memicu keresahan petani karena tanaman padi saat ini sangat membutuhkan air.
Kekeringan yang berkepanjangan membuat sawah mulai mengering, sementara solusi yang diharapkan dari program bantuan pemerintah dinilai belum memberi manfaat nyata.
Salah satu petani setempat, yang enggan disebutkan namanya, mengungkapkan kekecewaannya terhadap bantuan perpipaan yang telah dipasang beberapa bulan lalu, namun hingga kini belum dapat difungsikan secara optimal.
Pipa-pipa tersebut sudah tertanam di pinggir hingga pertengahan sawah menggunakan alat berat.
“Pipanya sudah semua ditanam, tapi mesinnya belum ada. Kalau pun nanti ada mesin pengisapan, airnya paling cuma bertahan satu jam karena mata airnya kecil,” ujar petani tersebut kepada timurkotacom, Senin (19/01/2026).
Ia menilai bantuan tersebut terkesan mubazir karena tidak didukung perencanaan teknis yang matang.
Menurutnya, sumber mata air yang digunakan tidak sesuai dengan kebutuhan luas areal persawahan di Desa Cammilo.
“Airnya cepat habis. Ini bukan solusi untuk sawah seluas ini. Kalau begini, sama saja petani dibiarkan menanggung risiko gagal panen,” keluhnya.
Lebih lanjut, petani mengatakan bahwa saat ini tanaman padi sudah memasuki masa kritis dan membutuhkan suplai air secara terus-menerus.
Tanpa pengairan yang stabil, hasil panen dipastikan akan menurun drastis.
Para petani juga mempertanyakan mengapa bantuan hanya berhenti pada pemasangan pipa tanpa kelengkapan mesin penggerak.
Bahkan, sambungan pipa di beberapa titik disebut belum terpasang secara sempurna.
“Kami nanti akan perlihatkan kondisi pipanya. Banyak yang belum dipasang kram, tapi sudah ditanam semua di sawah. Kalau begini, bantuan ini justru bikin petani tambah kecewa,” tambahnya.
Keresahan petani semakin memuncak karena mereka merasa tidak dilibatkan dalam penentuan titik mata air dan sistem pengairan.
Padahal, petani setempat lebih memahami kondisi lahan dan kebutuhan air sawah mereka.
Petani berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan mengevaluasi bantuan tersebut.
Mereka meminta solusi nyata agar pasokan air ke sawah dapat berjalan maksimal demi menyelamatkan musim tanam.
“Kalau ini tidak segera dibenahi, kami bisa marah. Padi sudah butuh air, tapi bantuan tidak jalan. Jangan sampai petani jadi korban kebijakan yang tidak tepat,” tegas petani tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai kelanjutan bantuan perpipaan tersebut.
Petani Desa Cammilo berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat agar ancaman gagal panen tidak benar-benar terjadi.