timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Mengenal Cemme-cemme, Tradisi Unik Warga Lakukang Mare Mandi di Sungai Batu Mattimbawoe

Baca Juga

Wiwink-Daerah, Sabtu 8 Oktober 2022 20:10 WIB

Warga bersantap bersama di pinggir sungai


TIMURKOTA.COM, BONE- Orang tua, anak, bahkan keponakan dan kemanakan yang telah berkeluarga dan tinggal di luar desa dikirimi pesan, dulu dari mulut ke mulut. 


Namun seiring dengan perkembangan zaman, sekarang pesan dari mulut ke mulut telah berubah via sambungan telepon selular.

Mereka saling mengabari, ada yang meminta untuk disiapkan jatah bekal ketika ingin bersantap bersama di pinggir sungai. 

Bekal pun berbagai macam, ada yang membawa nasi kuning, ada buras, ada nasi biasa, lauknya pun berbagai jenis, ada daging, ada ayam, ada telur bahkan ikan bakar.

Mereka duduk di pinggir sungai Batu Mattimbawoe yang terletak di Kampung Cempae, Desa Lakukang, Kecamatan Mare, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Mereka berkumpul bersama, ada yang datang dari desa lain khusus untuk larut dalam kebersamaan itu dengan alasan mereka masih turunan langsung dari nenek yang berasal dari Desa Lakukang.

"Saya tinggal di desa lain, cuman kakek dan nenek saya asli Lakukang. Sejak kecil saya selalu diajak ke sini ketika acara 'Cemme-cemme' (Mandi-mandi, red). Sampai sekarang setiap diadakan saya selalu datang, untuk sekadar bersilaturahmi," kata seorang pengunjung.

Tradisi ini terbilang unik, warga terlihat tidak ada ritual khusus. Ketika sampai di sungai mereka mencari tempat kemudian bersantap bersama. 

Dalam mencari tempat duduk, mereka biasanya tak mau terlalu mendekat di pinggir sungai, alasannya terkadang ada beberapa warga yang menyiram air dari dasar sungai. 

Oh iyya, para pengunjung tak dibiarkan pulang ketika belum mandi atau sekadar pakaian basah. Jika ada warga yang hendak pulang sebelum menceburkan diri ke sungai.

Biasanya akan ada warga lain atau  pemuda yang menyiram sampai pakaian basah. Atau bahkan ada yang digotong lalu kemudian diceburkan ke dalam sungai.

Orang yang disiram dan diceburkan pun hanya pasrah. Mereka menyadari bahwa dalam tradisi yang sudah turun temurun itu tak boleh pulang sebelum pakaian basah, mulai dari anak-anak, orang dewasa hingga paruh baya.

"Ini merupakan tradisi dan bentuk kesyukuran. Rutin dilaksanakan setiap habis panen. Yang datang meramaikan bukan hanya warga yang tinggal dan menetap di kampung. Perantau, bahkan keluarga dari daerah lain biasa ada datang,"ungkap seorang tokoh masyarakat, Erwin.

Selain Cemme-cemme yang rutin dilakukan warga pasca panen padi. Sungai Batu Mattimbawoe juga kerap didatangi warga yang baru saja melepas masa lajangnya.

Prosesinya hampir sama, tak ada ritual khusus. Biasanya kedua pengantin baru diminta menceburkan diri ke dalam air sungai. Kemudian setelah itu lanjut bersantap bersama keluarga.

Matahari sudah tinggi, jam menunjukkan pukul 09.00 Wita. Penulis ingin bergegas meninggalkan lokasi. Disertai perasaan lega karena warga di sana tak ada yang menyiram mungkin karena mereka melihat penulis sebagai orang baru. 

Namun ketika hendak naik dikendaraan tiba-tiba muncul wanita paruh baya dari belakang membawa botol mineral yang isinya air dari sungai langsung menyiramkan sambil menyampaikan bahwa tidak boleh pulang sebelum pakaian basah.

Setelahnya, nenek tersebut minta maaf. Sambil menyampaikan bahwa tradisi tersebut mereka akan lestarikan sebagai salah satu kekayaan yang terus eksis di tengah perkembangan zaman.

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close