timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Kisah Mistis Bendungan Ponre-ponre: Cerita Keberadaan Masjid di Dasar Bendungan Hingga 7 Wanita Cantik Penyuka Tumbal Pria

Baca Juga

Wiwink-Wisata, Minggu 16 Oktober 2022 16:47 WIB

Bendungan Ponre-ponre, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan

TIMURKOTA.COM, BONE- Waduk atau Bendungan Ponre-ponre terletak di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Bendungan ini dibangun pada tahun 2007 dengan volume tampungan efektif sebesar 73 juta m3, secara geografis terletak di  4°51’45″S’ Ls dan 119°59’18″BT. 

Bendungan Ponre-ponre berada pada daerah aliran sungai Tinco dalam wilayah sungai, dengan sumber airnya adalah sungai Tinco.

Lokasi berdirinya bendungan Ponre-ponre dikenal dengan kampung Bakkanie sebuah dusun yang berada di wilayah Desa Tompo Bulu, Kecamatan Libureng. 

Berada dalam masyarakat tradisional, penduduk kampung Bakkkanie secara turun temurun mempercayai tradisi dan beberapa tempat mistis. 

Sebagai salah satu contoh yakni sumur tua yang letaknya berada di dasar sungai tepat di bawah jembatan panjang yang menghubungkan antara poros Bone- dengan kantor Desa Tompo Bulu.

Penduduk setempat dulunya tidak berani beraktivitas atau sekadar mandi dan mengambil air sumur tersebut. Mereka baru  mengunjungi sumur tua itu setiap sekali dalam setahun dengan diistilahkan 'mangade dan Mappaleppe'.

Namun konon katanya, sumur tersebut saat ini sulit ditemukan lantaran posisinya berada di dasar sungai yang telah dipenuhi air yang tertampung bendungan.

Kondisi saat masih pengerjaan bendungan Ponre-ponre Tahun 2007


"Tempatnya memang di bawah jembatan. Dulunya setiap tahun ada kegiatan adat di sana. Namun sekarang tidak lagi karena sudah tenggelam semua. Kami penduduk setempat memang tak berani ke lokasi itu tangkap ikan apalagi untuk berenang," kata seorang warga, Emmang.

Menurut Emmang, ketika ada pengunjung yang bertandang ke sana kemudian kelihatan sombong apalagi sampai memandang enteng kedalaman bendungan jarang tidak dapat masalah. Bahkan tenggelam dan meninggal dunia.

"Yang pertama kali meninggal tenggelam di sini adalah guru sekolah dari Kecamatan Lappariaja. Waktu itu dia memungut telur di dalam air. Sempat disampaikan jangan ambil. Namun dia malah bilang ini telur biasa dan enak buat dimakan. Pas diambil, perahunya tenggelam dan dia hilang, tiga hari kemudian baru ditemukan meninggal dunia," katanya lagi menjelaskan.

Misteri Tujuh Wanita Cantik Berpakaian Merah

Belum lama ini dikisahkan oleh salah seorang penjaga bendungan, Bahar. Dirinya menuturkan, ada warga bertemu dengan tujuh wanita cantik berpakaian serba merah. Wanita yang memiliki kemiripan bahkan bisa dikata kembar ditemukan berjalan kaki menuju bendungan.

"Waktu ditanya sama warga mau kemana? wanita itu menunjuk bendungan. Ada warga yang iseng mengikuti dan setelah sampai di bendungan tujuh orang itu turun ke dalam air dan menghilang," katanya.

Sehingga menurut Bahar, banyak warga mempercayai bahwa  tujuh wanita cantik tersebut merupakan penunggu bendungan tersebut. 

"Penunggunya di sini marah dan tidak suka sama orang yang sombong apalagi kalau memandang enteng ke dalaman bendungan," beber, Bahar lagi.

Masjid di Dasar Bendungan

Fakta adanya masjid di dasar bendungan diungkapkan oleh beberapa warga yang dulunya penduduk kampung Bakkanie, namun setelah bendungan dibangun.

Mereka kemudian diarahkan untuk pindah kampung yang lokasinya tak jauh dari pemukiman mereka sebelumnya. Masjid yang berada di dasar bendungan bukan masjid jadi-jadian, melainkan bangunan yang tak dirubuhkan sebelum wilayah tersebut tenggelam.

"Ke dalamannya di sini tidak bisa saya prediksi. Jangankan pendatang, kami saja penduduk setempat tidak berani menyelam ke dasar bendungan. Di bawah sana ada masjid yang masih berdiri, dulu warga tidak robohkan sebelum bendungan penuh air," kata seorang warga lain, Andri.

Menurutnya, bukti ke dalaman bendungan lain adalah gunung yang dulunya sempat berbentuk pulau sekarang telah ditutupi air.

"Padahal gunung itu tinggi sekali, ratusan meter. Namun sekarang sudah tidak terlihat lagi," ungkapnya.

Tiga korban Jiwa Disebut 'Tumbal' Bendungan Ponre-ponre

Kepala Sekolah Bernama, M Alwi 


M Alwi merupakan Kepsek Sekolah Dasar (SD) Negeri 156 Mattampawalie, Desa Bulu Tanah, Kecamatan Lappariaja. Bermula pada Rabu (07/08/13) saat korban bersama tiga rekannya tengah memancing di atas perahu di bendungan Ponre-ponre, Desa Ponre-ponre, Kecamatan Libureng.

Korban yang hobi memancing tetapi tidak bisa berenang akhirnya tenggelam, sementara ketiga rekannya selamat setelah berenang ke tepi bendungan.

"Rekan korban sudah berusaha menolong tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan akhirnya mereka menyelamatkan diri masing-masing," terang AKP Kaharuddin, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Libureng.

Pencarian yang dilakukan tim Basarnas baru membuahkan hasil pada Sabtu pagi. Jenazah Alwi ditemukan terapung di tengah danau.

"Keluarga korban bahkan mendirikan tenda di pinggir bendungan untuk bantu kami lakukan pencarian dan baru bisa ditemukan setelah tiga hari karena airnya cukup dalam," kata Andi Sultan, anggota Basarnas Bone.

Pelajar Asal Maros bernama, Sulvikram (15)

Pelajar asal Kabupaten Maros, Sulvikram (15) itu ditemukan tewas tenggelam di Bendungan Ponre-ponre, Kabupaten Bone, Kamis (26/12/19) pagi. Korban pamit ke keluarga untuk pergi memancing guna mengisi liburan sekolah. Namun dirinya tenggelam saat perahu terbalik.

Butuh tiga hari hingga akhirnya Tim SAR Gabungan menemukan jasad Sulvikram. Korban dilaporkan tenggelam sejak Senin (23/12/2019) malam.

"Sudah ditemukan dan dievakuasi oleh tim Kamis pagi tadi," kata Kepala Basarnas Bone, Andi Sultan, di kawasan bendungan yang merupakan objek wisata tersebut

Menurut Sultan, korban ditemukan tidak jauh dari tempatnya tenggelam, sekitar 10 meter. Setelah dievakuasi, jenazah remaja sekolah tingkat SMA itu dibawa ke rumah duka di Kabupaten Maros.

"Ambulans dari Maros memang sudah stand by dari semalam (Rabu malam)," ujar dia.

Sulvikram merupakan warga Kecamatan Camba, Kabupaten Maros. Dia pamit kepada keluarga untuk pergi ke bendungan tersebut mengisi liburan sekolah bersama empat orang temannya.

Pemuda asal Lappa Talejje bernama, Akmal Bin Jamal (18)

Akmal merupakan warga asal Dusun Lappa Talejje, Desa Tompobulu, Kecamatan Libureng, Kabupaten Bone.

Berangkat dari rumahnya bersama empat rekannya untuk memancing. Akmal nekat berenang untuk menyebrangi anak sungai bendungan Ponre-ponre.

Rekannya sempat mengingatkan untuk tidak berenang. Namun, korban mengatakan dirinya mampu menyebrangi sungai bahkan lebih luas dari bendungan.

"Sempat diingatkan bahwa tempat itu angker. Cuman korban masih saja nekat, dan akhirnya kelelahan di tengah sungai dan kelihatan seperti ada yang tarik kakinya," kata warga, Bur.

Kapolsek Libureng AKP Hajriadi mengatakan korban ditemukan beberapa jam pasca tenggelam.

"Korban ditemukan oleh warga dalam keadaan meninggal dunia dan telah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan," kata mantan Kapolsek Mallawa ini. 

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close