timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Bagaimana Nasib PSM dan Peserta Liga 1 Pasca Kerusuhan di Kanjuruhan. Terancam Mengalami Kerugian Besar...

Baca Juga

Wiwink-Bola, Minggu 2 Oktober 2022 10:17 WIB

Kerusuhan Kanjuruhan Malang


TIMURKOTA.COM, MAKASSAR- Tragedi Kanjuruhan Malang yang terjadi pada Sabtu 1 Oktober 2022 menjadi sejarah kelam sepakbola. 


Bukan hanya Indonesia, kerusuhan yang hingga saat ini telah menewaskan 158 orang merupakan insiden kedua terbanyak korban meninggal dunia akibat kerusuhan suporter sepakbola yang terjadi di dunia.

Data yang diperoleh, kerusuhan antar suporter dengan jumlah korban jiwa terbanyak masih dipegang Peru dalam insiden di Estadio Nacional Diasaster Lima Peru tercatat 328 korban jiwa.

Untuk posisi ke tiga terjadi di Accra Sports Stadium Diasaster, Accra Ghana. Dalam kerusuhan tersebut 126 korban jiwa berjatuhan. 

Dari semua insiden tersebut FIFA telah mengambil tindakan tegas dengan membekukan sepakbola di negara tersebut.

Tahun 1985 tragedi Heysel, final Liga Champion Liverpool vs Juventus, ada 39 orang supporter meninggal , sanksinya selama 5 tahun klub-klub Inggris tidak boleh berlaga di semua kompetisi Eropa. Itu hanya dengan 39 korban.

Sementara itu Indonesi kemungkinan besar seluruh aktivitas sepak bola akan dihentikan oleh FIFA. Dengan demikian pencalonan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 juga kemungkinan akan dibatalkan.

Lantas bagaimana nasib Peserta Liga 1 2022. Jika betul dibekukan oleh FIFA maka kemungkinan besar klub akan merugi dan harus putus kontrak dengan pemain-pemain mereka.

Berikut empat liga yang sempat dibekukan karena aksi suporter:

1. Liga Uruguay


Pada 2016, Liga Uruguay sempat mandek selama sepekan.

Penyebabnya, pada 28 September 2016, suporter Penarol, Hernan Fioritto, harus meregang nyawa setelah ditembak oleh fan tim rival, Nacional.

Kejadian tersebut terjadi saat Fioritto dan kelompoknya tengah merayakan ulang tahun Penarol yang ke-125 di Santa Lucia.

Federasi Sepak Bola Uruguay (AUF) pun langsung mengambil langkah tegas atas kejadian tersebut.

"Setelah mengetahui kematian fan sepak bola berusia 21 tahun, Komite Eksekutif AUF memutuskan untuk menunda semua kegiatan yang digelar pada pekan ini," bunyi pernyataan resmi AUF.

"Yang paling penting bagi sepak bola Uruguay adalah, tak ada yang lebih penting daripada nyawa seorang penggemar," tulis mereka lagi.

2. Liga Mesir


Bentrokan antara suporter dan aparat keamanan membuat Liga Mesir dibekukan pada 2015.

Dilansir BolaSport.com dari Telegraph, fan Zamalek yang menyaksikan pertandingan melawan klub rival, ENPPI, di Kairo, Mesir, terlibat insiden dengan polisi yang berjaga.

Saksi mata mengatakan bahwa petugas keamanan yang memantik insiden tersebut dengan menembakkan gas air mata ke kumpulan suporter.

Kericuhan pun tak bisa dihindarkan, sekitar 25 suporter meninggal dunia karena kejadian tersebut.

Federasi sepak bola Mesir pun membekukan kompetisi selama satu pekan untuk menetralisir keadaan.

3. Liga Yunani


Kerusuhan suporter juga terjadi di Negeri Para Dewa, Yunani, pada 2015.

Pertandingan antara Panathinaikos dan Olympiakos diwarnai dengan keributan yang menewaskan satu orang penonton.

Kejadian bermula ketika suporter Olympiakos menyusup masuk ke lapangan pertandingan dan menyalakan flare di tribune penonton.

Hal tersebut kemudian memancing reaksi dari fan Panathinaikos dan bentrokan pun terjadi.

"Jika situasinya tetap sama, tak akan ada pertandingan untuk hari Minggu ini," ujar Perdana Menteri Yunani, Alexis Tspiras.

4. Liga Italia


Liga mahsyur seperti Serie A juga pernah dibekukan karena kerusuhan yang terjadi di kalangan suporter.

Pada 1995 seorang fan Genoa, Vicenzo Spagnolo, tewas ditikam di luar stadion jelang laga kontra AC Milan.

Pembekuan kompetisi juga terjadi di divisi dua dan tiga Liga Italia.

Namun kemudian Italia berbenah dan menjadi salah satu liga terbaik di dunia saat ini.

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close