timurkota.com

timurkota.com

Tim Redaksi

Korban Banjir NTT Mulai Kekurangan Stok Makanan dan Pakaian

Banjir NTT dipantau dari udara (foto: dok istimewa)

TIMURKOTA.COM, NTT-

Ribuan korban banjir lahar dingin di Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai khawatir dengan menipisnya stok makanan dan pakaian. 

Sejak wilayah itu dilandar banjir hebat disertai tanah longsor, para korban hingga saat ini belum tersentuh bantuan sama sekali.

Seperti pengakuan salah seorang warga di Kelurahan Lambanapu, Kecamatan Kambera Sumba Timur, NTT.

Salah satu tanggul di NTT jebol (foto: dok Istimewa)

Ia menuturkan, di wilayahnya bantuan paling dibutuhkan adalah makanan dan pakaian. Termasuk bantuan medis karena ada beberapa balita hingga langsia yang memerlukan penanganan medis.

"Paling penting makanan dan pakaian. Kami berharap secepatnya ada bantuan dari pemerintah," kata seorang korban, Aryubi.

Di lokasi lain, korban banjir juga mengeluhkan hal sama. Mereka kekurangan makanan dan pakaian. 

Diberitakan sebelumnya, Banjir Bandang yang melanda NTT mengakibatkan puluhan warga meninggal dunia. Selain itu puluhan bangunan hancur disapu air bercampur lumpur.

Melansir pemberitaan CNN Indoneaia Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 44 orang. Catatan itu dimutakhirkan pada Minggu (4/4) pukul 15.00 WIB.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati mengatakan korban jiwa tersebar di tiga desa. BNPB dan sejumlah lembaga negara masih terus memperbarui data dari lapangan.

"Desa Lamanele 38 orang meninggal dunia, Desa Waiburak 3 orang meninggal dunia, Desa Oyang barang 3 orang meninggal dunia. Total 44 orang meninggal dunia, 7 hilang dalam pendataan," kata Raditya lewat keterangan tertulis, Minggu (4/4).

BNPB masih mendata jumlah korban luka-luka dari berbagai desa yang terdampak. Untuk sementara, 49 kepala keluarga dipastikan terdampak kejadian ini.

Raditya menyampaikan saat ini ada 7 orang yang dinyatakan hilang usai kejadian. Seluruhnya berasal dari desa Waiburak.

BNPB pun mencatat kerugian berupa kebendaan. Hingga saat ini, BNPB melaporkan pemukiman warga hanyut tersapu banjir, puluhan rumah di Desa Lamanele tertimbun lumpur, dan jembatan di Desa Waiburak putus.

Raditya menuturkan sejumlah instansi terkait telah rapat terbatas dan mendirikan posko. Sejumlah pejabat tingkat kabupaten dikabarkan akan turun langsung ke lokasi bencana.

"Tim yang terdiri dari bupati, TNI, Polri, Asisten 1, BPBD, Dinas Sosial, Dinas PUPR, Satpol PP, Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian dan Ketahanan pangan, Dinas Perkebunan dan peternakan, Bagian Humas, Anggota DPRD sedang dalam perjalanan laut, 30 Menit lagi baru sampai ke lokasi dan segera menginformasikan kondisi terkini," ujarnya.


***

Posting Komentar

0 Komentar

Berita Populer

close