![]() |
| Pasar hewan liar Paniki terancam ditutup akibat mewabahnya Covid-19 |
TIMURKOTA.COM, ASIA- Pasar hewan liar di kawasan Asia Tenggara terancam ditutup menyusul meningkatnya tekanan internasional terhadap praktik perdagangan satwa ilegal yang dinilai membahayakan lingkungan dan kesehatan global.
Sejumlah organisasi konservasi dan lembaga kesehatan dunia menilai aktivitas jual beli satwa liar berkontribusi besar terhadap kepunahan spesies serta berpotensi memicu penularan penyakit zoonosis lintas negara.
Pemerintah di beberapa negara Asia Tenggara mulai mengambil langkah tegas dengan memperketat regulasi, meningkatkan pengawasan, hingga menutup pasar-pasar yang terbukti menjadi pusat perdagangan satwa dilindungi.
Upaya ini dilakukan seiring dorongan komunitas global agar kawasan tersebut menjadi contoh dalam penegakan hukum konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Meski demikian, rencana penutupan pasar hewan liar menuai beragam respons, terutama dari pelaku usaha kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas tersebut.
Pemerintah didesak menyiapkan solusi ekonomi alternatif agar kebijakan penertiban tetap berjalan seimbang, tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan masyarakat serta tujuan perlindungan lingkungan jangka panjang.
Pandemi Virus Corona COVID-19 telah menghasilkan dukungan luar biasa terkait penutupan pasar yang menjual satwa liar ilegal di wilayah Asia Tenggara. Meskipun World Wildlife Fund mengatakan dalam jajak pendapat publik bahwa pasar seperti itu menjadi pusat perdagangan multi-miliar dolar.
Sekitar 93 persen dari sekitar 5.000 orang yang disurvei oleh WWF pada bulan Maret di tiga negara Asia Tenggara serta Hong Kong dan Jepang mengatakan pasar yang tidak diatur yang menjual satwa liar harus ditutup untuk menangkal pandemi di masa depan. Demikian seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (7/4/2020) dan dilansir TIMURKOTA.COM
Para ilmuwan percaya bahwa virus yang telah menyebar luas di seluruh dunia ini berasal dari pasar satwa liar, dan kemungkinan di kota Wuhan di China, di mana kelelawar, trenggiling, dan hewan lain yang diketahui membawa Virus Corona jenis baru.
"Ini bukan lagi masalah satwa liar. Ini adalah masalah keamanan global, kesehatan manusia, dan ekonomi," kata Christy Williams, Direktur Asia Pasifik WWF, dalam konferensi pers, yang memberikan hasil survei.
Dukungan untuk tindakan keras terhadap pasar adalah yang terkuat di Myanmar, di mana satwa liar telah bertahun-tahun diperdagangkan secara terbuka di daerah otonom yang berbatasan dengan China, sementara sepertiga responden di Vietnam mengatakan krisis telah mendorong mereka untuk berhenti mengonsumsi produk-produk satwa liar.
"COVID adalah panggilan untuk membangunkan," Grace Hwa, Manajer Program Perdagangan Satwa Liar Ilegal di WWF Myanmar, mengatakan dalam sebuah pernyataan. "Perdagangan satwa liar yang tak terkendali merajalela bukan hanya risiko bagi kesehatan dan ekonomi, tetapi juga bagi seluruh stabilitas kawasan."
(rill/as)
Sekitar 93 persen dari sekitar 5.000 orang yang disurvei oleh WWF pada bulan Maret di tiga negara Asia Tenggara serta Hong Kong dan Jepang mengatakan pasar yang tidak diatur yang menjual satwa liar harus ditutup untuk menangkal pandemi di masa depan. Demikian seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (7/4/2020) dan dilansir TIMURKOTA.COM
Para ilmuwan percaya bahwa virus yang telah menyebar luas di seluruh dunia ini berasal dari pasar satwa liar, dan kemungkinan di kota Wuhan di China, di mana kelelawar, trenggiling, dan hewan lain yang diketahui membawa Virus Corona jenis baru.
"Ini bukan lagi masalah satwa liar. Ini adalah masalah keamanan global, kesehatan manusia, dan ekonomi," kata Christy Williams, Direktur Asia Pasifik WWF, dalam konferensi pers, yang memberikan hasil survei.
Dukungan untuk tindakan keras terhadap pasar adalah yang terkuat di Myanmar, di mana satwa liar telah bertahun-tahun diperdagangkan secara terbuka di daerah otonom yang berbatasan dengan China, sementara sepertiga responden di Vietnam mengatakan krisis telah mendorong mereka untuk berhenti mengonsumsi produk-produk satwa liar.
"COVID adalah panggilan untuk membangunkan," Grace Hwa, Manajer Program Perdagangan Satwa Liar Ilegal di WWF Myanmar, mengatakan dalam sebuah pernyataan. "Perdagangan satwa liar yang tak terkendali merajalela bukan hanya risiko bagi kesehatan dan ekonomi, tetapi juga bagi seluruh stabilitas kawasan."
(rill/as)


