![]() |
| Muhammad Farhan |
TIMURKOTA.COM, BONE — Presiden Mahasiswa IAIN Bone, Muhammad Farhan, meluruskan pemberitaan yang menyebut pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Bone berlangsung ricuh.
Muhammad Farhan menegaskan bahwa rangkaian kegiatan PBAK telah selesai dan secara resmi ditutup oleh pihak institut sebelum insiden tersebut terjadi.
“Yang perlu kami luruskan adalah konteks waktunya. PBAK sudah selesai dan sudah ditutup secara resmi oleh institut. Setelah acara selesai, sebagian peserta memang masih berada di lapangan untuk menikmati suasana, bernyanyi dan bergembira. Namun, kemudian terjadi insiden antar kelompok. Jadi kami menolak jika kejadian tersebut kemudian disebut sebagai ‘PBAK ricuh’,” tegas Muhammad Farhan, Presiden Mahasiswa IAIN Bone.
Ia menjelaskan, keberadaan peserta di lokasi setelah acara selesai tidak serta-merta berarti kegiatan PBAK masih berlangsung. Menurutnya, perlu ada pemisahan yang jelas antara agenda resmi PBAK dengan aktivitas mahasiswa setelah agenda tersebut dinyatakan selesai.
“Kami tidak mengatakan bahwa insiden itu tidak terjadi. Kami mengakui ada kejadian dan tentu sangat disayangkan. Tetapi harus dibedakan antara pelaksanaan PBAK dengan kejadian yang terjadi setelah penutupan. Jangan sampai judul atau narasi pemberitaan membuat publik memahami seolah-olah seluruh rangkaian PBAK berlangsung ricuh,” ujarnya.
Muhammad Farhan juga mengecam tindakan provokatif yang diduga dilakukan oleh pihak yang bukan bagian dari kepanitiaan kegiatan.
Menurutnya, tindakan pihak yang masuk ke area kegiatan kemudian melakukan hal-hal yang berpotensi memancing ketegangan sangat disayangkan, terlebih ketika rangkaian PBAK telah dinyatakan selesai.
“Kami mengecam segala bentuk tindakan provokatif yang dapat memicu benturan. Apalagi ketika rangkaian acara telah selesai dan pihak yang bersangkutan bukan merupakan bagian dari kepanitiaan. Jangan sampai tindakan individu kemudian memicu persoalan yang lebih besar dan merugikan mahasiswa maupun nama baik institusi,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa apabila terdapat persoalan, seharusnya diselesaikan melalui mekanisme yang baik dan tidak dengan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan.
“Kalau ada persoalan, ada mekanisme yang bisa ditempuh. Jangan hadir kemudian melakukan tindakan yang justru memancing situasi menjadi tidak kondusif. Kami meminta seluruh mahasiswa untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap mengedepankan ketertiban serta tanggung jawab bersama,” lanjut Muhammad Farhan.
Menurutnya, pemberitaan mengenai suatu peristiwa juga harus melihat kronologi secara utuh. Ia menghargai kerja media dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, namun berharap pemberitaan tidak menggeneralisasi sebuah insiden pasca-acara sebagai kericuhan dalam pelaksanaan PBAK.
“Kami menghargai teman-teman media dalam menjalankan fungsi jurnalistik. Tetapi kami berharap pemberitaan tetap berimbang dan berdasarkan kronologi. Kalau memang terjadi insiden setelah acara selesai, beritakan sesuai konteksnya. Jangan digeneralisasi menjadi ‘PBAK ricuh’,” ujarnya.
Muhammad Farhan mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak memperpanjang persoalan dan tetap menjaga situasi agar kondusif.
“Dalam situasi seperti ini, yang kita butuhkan bukan saling menyalahkan, tetapi kedewasaan dalam menyikapi setiap persoalan. Kami mengajak seluruh mahasiswa untuk tetap menjaga ketertiban, menghormati almamater, dan memastikan bahwa setiap persoalan diselesaikan berdasarkan fakta, bukan berdasarkan asumsi,” tutup Muhammad Farhan, Presiden Mahasiswa IAIN Bone. (*)


