Iklan

Olahraga Adu Gengsi/FOMO atau Olahraga Gaya Hidup Sehat

Redaksi-timurkota
Rabu, Juli 15, 2026 | 5:08 AM WIB Last Updated 2026-07-14T22:10:52Z


Oleh: Andi Abdul Rahman,S.Pd.,M.Pd
Dosen Program Studi Ilmu Olahraga Universitas Cahaya Prima 

Di era digital yang ditandai oleh pesatnya perkembangan teknologi informasi dan media sosial, aktivitas olahraga mengalami perubahan makna yang cukup signifikan. 

Jika dahulu olahraga lebih banyak dipandang sebagai sarana untuk menjaga kesehatan fisik dan kebugaran tubuh, saat ini olahraga juga telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas sosial. 

Kehadiran berbagai platform media sosial memungkinkan setiap individu untuk membagikan aktivitas olahraga yang dilakukan, mulai dari kegiatan berlari, bersepeda, hingga latihan di pusat kebugaran. 

Dokumentasi aktivitas tersebut kemudian menjadi konsumsi publik yang dapat memperoleh apresiasi, komentar, maupun pengakuan sosial dari lingkungan sekitar. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa olahraga tidak lagi sekadar aktivitas kesehatan, tetapi juga telah menjadi sarana untuk menunjukkan eksistensi diri di tengah masyarakat digital.

Motivasi merupakan faktor utama yang menentukan apakah seseorang akan memulai, mempertahankan, atau menghentikan kebiasaan berolahraga. 

Dalam perspektif psikologi, Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Deci dan Ryan menjelaskan bahwa motivasi manusia terbagi menjadi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. 

Motivasi intrinsik muncul dari dorongan yang berasal dari dalam diri individu, seperti keinginan untuk menjaga kesehatan, memperoleh kebugaran, meningkatkan kualitas hidup, atau merasakan kepuasan setelah berolahraga. 

Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berasal dari faktor luar, seperti pujian, penghargaan, pengakuan sosial, maupun keinginan memperoleh citra positif di lingkungan sekitar. 

Dalam konteks perkembangan media sosial saat ini, banyak individu yang memulai aktivitas olahraga karena dipengaruhi oleh motivasi ekstrinsik, misalnya ingin mengikuti tren, memperoleh perhatian, atau membangun identitas diri di ruang digital. 

Meskipun motivasi tersebut dapat menjadi pemicu awal seseorang untuk aktif bergerak, keberlanjutan perilaku olahraga dalam jangka panjang tetap sangat bergantung pada berkembangnya motivasi intrinsik. 

Oleh karena itu, keberhasilan membangun gaya hidup sehat tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering seseorang berolahraga, tetapi juga oleh alasan mendasar yang mendorong aktivitas tersebut.
  
Fenomena tersebut juga terlihat di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, minat masyarakat terhadap olahraga mengalami peningkatan yang cukup pesat. 

Pada pagi dan sore hari, masyarakat dapat dengan mudah menjumpai kelompok pelari di Lapangan Merdeka Watampone maupun Stadion Lapatau Matanna Tikka, komunitas pesepeda yang melintasi jalan-jalan utama hingga kawasan Pelabuhan Bajoe, serta individu yang berolahraga di berbagai pusat kebugaran yang semakin berkembang. 

Aktivitas olahraga tersebut tidak hanya dilakukan untuk menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga sering kali diabadikan dalam bentuk foto maupun video yang kemudian diunggah ke berbagai media sosial seperti Instagram, Facebook, tiktok, dan Strava. 

Keadaan ini menunjukkan bahwa olahraga telah menjadi bagian dari budaya populer yang berkembang di tengah masyarakat Bone.

Meningkatnya tren olahraga di Kabupaten Bone pada dasarnya merupakan fenomena yang positif karena menunjukkan adanya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan. 

Aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dapat membantu mencegah berbagai penyakit tidak menular, meningkatkan kebugaran jasmani, memperbaiki kesehatan mental, serta meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan. 

Selain itu, berkembangnya komunitas olahraga juga memberikan ruang interaksi sosial yang lebih luas bagi masyarakat. 

Melalui kegiatan olahraga bersama, individu dapat membangun relasi sosial, memperkuat solidaritas komunitas, serta memperoleh dukungan sosial yang dapat meningkatkan motivasi untuk hidup lebih sehat. Namun demikian, di balik meningkatnya partisipasi masyarakat dalam olahraga, muncul pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. 

Apakah masyarakat berolahraga semata-mata karena kesadaran akan pentingnya kesehatan, ataukah terdapat faktor lain yang mendorong mereka untuk ikut serta dalam tren olahraga yang sedang berkembang? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika dikaitkan dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kondisi psikologis ketika seseorang merasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau aktivitas yang sedang dilakukan oleh orang lain. 

Dalam konteks olahraga, FOMO dapat mendorong seseorang untuk mulai berlari, bersepeda, atau mengikuti kegiatan kebugaran tertentu bukan karena kebutuhan kesehatan, melainkan karena keinginan untuk menjadi bagian dari tren yang sedang populer.
Media sosial memainkan peran yang sangat besar dalam memperkuat fenomena tersebut. 

Algoritma media sosial dirancang untuk menampilkan berbagai konten yang dianggap menarik dan relevan bagi pengguna. Akibatnya, seseorang yang sering melihat unggahan mengenai aktivitas olahraga akan semakin banyak menerima konten serupa. 

Lama-kelamaan, muncul persepsi bahwa hampir semua orang sedang melakukan aktivitas tersebut. Ketika seseorang melihat teman, rekan kerja, atau tokoh yang diikutinya rutin membagikan pencapaian olahraga, seperti jarak lari, jumlah kalori yang terbakar, pencapaian target latihan, atau partisipasi dalam berbagai event olahraga, ia dapat merasakan dorongan psikologis untuk melakukan hal yang sama. 

Dorongan tersebut sering kali tidak berasal dari kebutuhan internal, melainkan dari keinginan untuk tetap relevan dan tidak tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Dalam kondisi tertentu, olahraga kemudian berubah menjadi simbol status sosial. Berbagai atribut yang digunakan dalam aktivitas olahraga tidak lagi dipilih semata-mata berdasarkan fungsi, tetapi juga berdasarkan nilai simbolik yang melekat padanya. 

Sepatu lari bermerek, sepeda dengan harga tinggi, jam tangan pintar untuk memantau performa latihan, hingga pakaian olahraga dengan desain tertentu sering kali menjadi bagian dari representasi identitas seseorang. 

Kepemilikan berbagai perlengkapan tersebut dapat memberikan kesan bahwa seseorang memiliki gaya hidup sehat, modern, aktif, dan produktif. 

Tidak jarang pula partisipasi dalam event olahraga tertentu dijadikan sebagai bentuk pencapaian yang dapat dipamerkan kepada lingkungan sosial.

Pada titik tertentu, fenomena ini dapat melahirkan budaya adu gengsi dalam olahraga. Sebagian individu merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya mampu mengikuti tren olahraga yang sedang berkembang. 

Mereka terdorong untuk mengunggah aktivitas olahraga secara rutin, mengikuti berbagai event yang sedang populer, atau membeli perlengkapan olahraga tertentu agar memperoleh pengakuan sosial. 

Dalam situasi seperti ini, olahraga tidak lagi sepenuhnya berorientasi pada kesehatan, melainkan juga menjadi sarana untuk membangun citra diri di hadapan orang lain. Meskipun demikian, penting untuk dipahami bahwa motivasi sosial semacam ini tidak selalu bersifat negatif. 

Bagi sebagian orang, dorongan untuk memperoleh pengakuan sosial justru dapat menjadi langkah awal yang efektif untuk mulai menjalani gaya hidup yang lebih aktif.

Fenomena FOMO dalam olahraga memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, FOMO dapat menjadi pendorong yang efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik. 

Seseorang yang sebelumnya tidak pernah berolahraga mungkin terdorong untuk mulai bergerak karena melihat teman-temannya aktif berlari atau bersepeda. 

Dengan demikian, FOMO dapat berfungsi sebagai pemicu awal yang membantu seseorang keluar dari gaya hidup sedentari dan mulai merasakan manfaat olahraga bagi kesehatan. 

Banyak individu yang pada awalnya hanya mengikuti tren akhirnya menemukan bahwa olahraga memberikan dampak positif terhadap kondisi fisik maupun mental mereka sehingga aktivitas tersebut kemudian menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
  
Di sisi lain, FOMO juga dapat menimbulkan berbagai konsekuensi negatif apabila tidak diimbangi dengan pemahaman yang tepat mengenai tujuan dan manfaat olahraga. 

Ketika seseorang berolahraga hanya untuk mengikuti tren atau memperoleh validasi sosial, motivasi yang dimiliki cenderung bersifat sementara. 

Ketika tren tersebut mulai menurun atau perhatian publik beralih pada hal lain, semangat untuk berolahraga pun dapat ikut menghilang. Akibatnya, aktivitas fisik yang dilakukan tidak mampu berkembang menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. 

Selain itu, keinginan untuk mengikuti pencapaian orang lain sering kali membuat seseorang memaksakan diri melakukan latihan yang melebihi kemampuan tubuhnya sehingga meningkatkan risiko cedera dan gangguan kesehatan.

Fenomena lain yang turut berkembang seiring meningkatnya popularitas olahraga adalah konsumerisme. Industri olahraga modern tidak hanya menjual aktivitas fisik, tetapi juga menjual gaya hidup. 

Berbagai produk olahraga dipromosikan melalui iklan yang menampilkan tubuh ideal, gaya hidup aktif, serta citra kesuksesan. 

Akibatnya, sebagian masyarakat mulai menganggap bahwa untuk dapat berolahraga dengan baik, mereka harus memiliki perlengkapan tertentu yang harganya relatif mahal. 

Pandangan semacam ini berpotensi menciptakan hambatan bagi kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan ekonomi. Padahal, pada hakikatnya olahraga dapat dilakukan dengan berbagai cara yang sederhana dan tidak memerlukan biaya besar.

Selain berdampak pada aspek fisik dan ekonomi, fenomena olahraga berbasis gengsi dan FOMO juga memiliki implikasi terhadap kesehatan mental. 

Aktivitas olahraga yang dilakukan secara teratur terbukti mampu mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, memperbaiki kualitas tidur, serta membantu mengatasi gejala kecemasan dan depresi. 

Namun, ketika olahraga dilakukan karena tekanan sosial yang berlebihan, manfaat tersebut dapat berkurang. Sebagian individu merasa cemas apabila tidak mampu mencapai standar tertentu yang ditampilkan di media sosial. 

Mereka membandingkan kemampuan, penampilan tubuh, atau pencapaian olahraga yang dimiliki dengan orang lain sehingga muncul perasaan tidak puas terhadap diri sendiri. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mental dan menurunkan kualitas hidup.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa tujuan utama olahraga adalah menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar memperoleh pengakuan sosial. 

Motivasi eksternal seperti dukungan teman, komunitas, atau tren media sosial memang dapat dimanfaatkan sebagai pendorong awal, tetapi motivasi tersebut perlu diubah menjadi motivasi internal agar kebiasaan berolahraga dapat bertahan dalam jangka panjang. 

Individu perlu menetapkan tujuan yang realistis dan sesuai dengan kebutuhan dirinya, seperti meningkatkan kebugaran, menjaga kesehatan jantung, mengontrol berat badan, atau meningkatkan kualitas hidup sehari-hari.

Pada saat yang sama, komunitas olahraga, penyelenggara kegiatan, institusi pendidikan, dan pemerintah memiliki peran penting dalam membangun budaya olahraga yang sehat. Berbagai program olahraga sebaiknya tidak hanya menekankan aspek kompetisi dan pencapaian, tetapi juga mengedepankan nilai kebersamaan, keselamatan, inklusivitas, dan keberlanjutan. 

Penyediaan fasilitas olahraga publik yang mudah diakses, kampanye edukasi mengenai manfaat aktivitas fisik, serta promosi gaya hidup sehat yang realistis dapat membantu menciptakan lingkungan yang mendukung masyarakat untuk berolahraga karena kesadaran, bukan semata-mata karena tekanan sosial.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai olahraga sebagai ajang adu gengsi atau sebagai gaya hidup sehat tidak dapat disederhanakan menjadi pilihan antara salah satu di antaranya. Dalam realitas kehidupan masyarakat modern, kedua aspek tersebut sering kali hadir secara bersamaan dan saling memengaruhi. 

FOMO dan dorongan sosial dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam aktivitas fisik, sementara edukasi, akses yang memadai, dan motivasi internal menjadi faktor yang menentukan apakah partisipasi tersebut akan berkembang menjadi kebiasaan sehat yang berkelanjutan. 

Dengan memahami keseimbangan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkan energi sosial yang muncul dari tren olahraga tanpa kehilangan tujuan utama olahraga itu sendiri, yaitu meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan kualitas hidup secara menyeluruh. (*)



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Olahraga Adu Gengsi/FOMO atau Olahraga Gaya Hidup Sehat
« Prev Next »

Jangan lupa ikuti kami di

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Trending Now

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Iklan

.entry-content { line-height: 1.4em; }