Iklan

Aktivis Mahasiswa Desak APH Tangkap Bandar yang Diduga Jual Sabu secara Terang-terangan di Bone

timurkota.com_official
Selasa, Januari 23, 2024 | 2:56 AM WIB Last Updated 2024-01-22T20:08:35Z

Penulis: Makmur
Editor: Herman Kurniawan

Ilustrasi barang bukti sabu (Foto: Dok. Istimewa)

TIMURKOTA.COM, BONE- Aktivis Mahasiswa di Kabupaten Bone mendesak agar Aparat Penegak Hukum (APH), Kepolisian maupun BNN membongkar aktivitas bandar sabu yang dikeluhkan warga secara terang-terangan melakukan transaksi. 

Salah seorang aktivis, Akbar kepada tim timurkota.com mengatakan, bahwa semestinya pihak kepolisian tidak menunggu ribut di media lalu bertindak. 

"Kalau selalu menunggu nanti diributkan di media baru ada upaya tindakan. Maka, yakin akan sulit terbongkar. Kita ingin Bone ini betul-betul bersih dari narkoba," terangnya. 

Dia mengatakan, bahwa saat ini adalah momen untuk bersih-bersih, pasalnya BNN telah menangkap KJ yang selama ini disebut sebagai bandar besar. 

"Jangan sampai bandar yang selalu disebut besar terlah tertangkap, justru ada bandar lebih besar lagi dibiarkan beroperasi," terangnya. 

Dirinya berharap tak ada permainan dalam penanganan kasus narkoba. Sehingga harapan Bone bersih narkoba bisa tercapai.

"Kita ingin penangkapan terhadap pelaku untuk memberantas, bukan memberi peluang kepada pelaku lain untuk beroperasi, dan semoga pemainan kotor seperti ini tidak ada di Kabupaten Bone," tutupnya.

Dugaan transaksi jual beli sabu secara terang-terangan dikeluhkan sejumlah warga di Jl Gunung Merapi, Kelurahan Watampone, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone.

Dari hasil penelusuran tim timurkota.com, salah satu rumah milik terduga bandar bernisial BK Alias OK selalu ramai didatangi diduga pelaku yang hendak melakukan transaksi barang haram.

Menurut sumber yang tak ingin namanya dimediakan. Rumah milik terduga bandar tersebut dikelilingi pagar besi, kemudian dilengkapi CCTV. 

Saat melakukan transaksi, bandar memantau dari dalam ketika ada pelanggan yang datang untuk membeli sabu.

"Ramai sekali, setiap malam. Sudah jadi rahasia umum di sini, hanya saja warga tak berani melaporkan," ungkap sumber media timurkota.com, Jumat (19/01/24) Pukul 11.24 Wita.

Masih sumber tersebut membeberkan, ketika melakukan transaksi pintu rumah yang diduga bandar tidak dibuka secara full.

"Kadang saya perhatikan, kalau ada datang, namanya saja dipanggil setelah itu dilakukan transaksi hanya tangan saja kelihatan," tambahnya.

Ia melanjutkan, dalam sehari ada puluhan pengendara motor dan mobil datang ke lokasi. 

"Selalu ramai setiap hari, orang yang datang pun sebagian dari luar," tutupnya.

Sementara itu BK alias OK telah disebut sebagai bandar dalam beberapa penangkapan sabu di Kabupaten Bone.

Salah satunya, kasus yang menyeret nama dua pria yang masih bersaudara kandung MS Alias PR Bin AL dan IWS Alias IW Bin AL.

Keduanya harus mendekam di balik jeruji besi setelah tertangkap bersama IK Alias AN Bin AR dalam penggerebekan Satuan Reserse Narkoba Polres Bone.

Ketiganya membeli sabu dengan cara patungan bersama dengan seorang pelaku SU (DPO). Dari hasil patungan tersebut uang terkumpul Rp400 ribu, dengan rincian, MS dan IWS masing-masing Rp50 ribu. 

Kemudian IK Rp100 ribu, lalu kemudian SU menyerahkan uang Rp200 ribu. Setelah uang terkumpul, MS dan IWS membeli sabu melalui bandar bernama, BK Alias OK.

Ia yang kerap disebut namanya sebagai pelaku peredaran narkoba di Kabupaten Bone mengarahkan MS untuk bertemu dengan seseorang yang ia tidak kenal di Jl Gunung Kinibalu, Kota Watampone.

MS menyerahkan uang Rp400 ribu lalu ia menerima empat paket sabu ukuran kecil yang tersimpan dalam plastik bening. 

Setelah menerima paket tersebut, MS bersama saudaranya, IWS pulang ke rumahnya dan mereka mengonsumsi satu paket sabu bersama SU di Jl. KH. Syamsuddin. Kelurahan Lonrae,  Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone.

Kemudian tiga paket sabu lainnya disimpan di bawah kasur dan pembungkus rokok untuk dikonsumsi esok harinya.

Namun hanya berselang beberapa saat kemudian rumah tersebut digerebek pihak kepolisian, SU kemudian melarikan diri sementara tiga pelaku lain tak dapat berkutik dan langsung diamankan bersama dengan barang bukti.

Perbuatan para terdakwa diatur dan diancam pidana Pasal 114 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.

Kasus ini telah vonis di Pengadilan Negeri Watampone, Kamis (28/12/23). Hakim menyatakan terdakwa masing-masing telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana turut serta menyalahgunakan narkotika golongan I bagi diri sendiri sebagaimana yang didakwakan dalam dakwaan alternatif ketiga.

"Menjatuhkan pidana kepada Para Terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara masing-masing selama 2 (dua) tahun 8 (delapan) bulan. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Para Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan," ungkap Hakim dalam membacakan vonis sebagaimana dikutip tim timurkota.com

Selanjutnya, menetapkan Para Terdakwa tetap ditahan. 

Menetapkan barang bukti tiga sachet yang berisi kristal bening yang tersimpan dalam plastic klip bening kecil diduga narkotika jenis sabu dengan berat awal (0,1516) gram berat akhir (0,0992) gram. 

Serta, satu pembungkus rokok merk Gudang garam kecil, satu buah sendok takar yang terbuat dari pipet plastik dan bambu.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Aktivis Mahasiswa Desak APH Tangkap Bandar yang Diduga Jual Sabu secara Terang-terangan di Bone

Jangan lupa ikuti kami di

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Trending Now

Konten Berbayar berikut dibuat dan disajikan advertiser. Wartawan timurkota.com tidak terlibat dalam aktivitas jurnalisme artikel ini.

Iklan