Oleh: Zulkifli
Kader PMII IAI DDI Mangkoso
TIMURKOTA.COM- Kepulauan Nusantara adalah sebuah ruang geografis dan kultural yang dibentuk oleh sejarah migrasi manusia yang panjang dan berlapis.
Keberagaman etnis, bahasa, dan budaya yang kini menghuni Nusantara tidak dapat dipisahkan dari proses pergerakan nenek moyang manusia yang datang dalam beberapa gelombang migrasi besar.
Nusantara adalah tempat dengan temuan manusia purba terbanyak di dunia dan menjadi tempat peleburan semua migrasi-migrasi itu berada di Nusantara. Terutama di wilayah Sulawesi (Wallacea).
Wallacea salah satu pulau yang unik dengan bentuknya yang hampir mirip dengan huruf "K".
Salah satu pulau yang terpisah dari Asia daratan. Karena kita ketahui, bahwa dulu Nusantara terbagi menjadi tiga wilayah: Sundaland, Wallacea, dan Sahullend.
Salah satu teori mengatakan bahwa migrasi manusia purba itu terhenti di Jawa dengan dasar, dipisahkan oleh laut yang dalam, sehingga tidak dapat menyebrang ke Sulawesi.
Tetapi teori itu terbantahkan dengan penemuan yang dilakukan oleh Pak Budianto Hakim beserta rekan-rekan di Wallacea.
Ini menjadi dasar bahwa manusia purba sudah mempunyai kemampuan navigasi untuk menyebrangi lautan. Mungkin masih menggunakan perahu yang sederhana untuk menyebrangi lautan.
Penemuan lukisan tertua di dunia yang ada di Sulawesi bukan hanya sebagai kebanggaan nasional, tetapi juga mengubah narasi sejarah di dunia.
Nusantara bukan sekadar “wilayah migrasi manusia”, melainkan salah satu pusat awal ekspresi seni dan simbolisme manusia.
Ironisnya, kita sebagai negara yang menjadi pusat penelitian dunia tetapi belum memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan penelitian, sehingga kita harus mengirim sampel keluar negri untuk diteliti dan pasti mengeluarkan anggaran yang jauh lebih besar. Ini menjadi tolak ukur bahwa seharusnya kita memiliki alat yang memadai bagi para peneliti lokal.
Migrasi Awal Hominin
Persebaran manusia sudah lama mempertahankan teori Out Of Afrika, dan itu menjadi narasi yang belum bisa terbantahkan sama sekali.
Seperti yang dikemukakan oleh Menteri Kebudayaan, dia mencetuskan narasi tentang "Out Of Nusantara" , manusia purba itu berasal dari Nusantara, dengan dasar banyaknya penemuan yang ditemukan di Nusantara yang berusia sangat tua.
Pertanyaannya ialah, Apakah ada data yang konkrit yang bisa Indonesia tawarkan untuk membantah teori Out Of Afrika?
Sementara penemuan di Afrika itu sekitaran 3,5 juta tahun yang lalu, sedangkan di Nusantara baru sekitar 1,8-1, 5 juta tahun yang lalu.
Ini menjadi bukti bahwa belum ada penemuan yang lebih tua daripada di Afrika. Tetapi ini bukan berarti teori Out Of Afrika tidak bisa terbantahkan.
Peninggalan manusia purba di Nusantara
Masa sekarang, banyak muncul penemuan baru tentang peninggalan manusia purba. Seperti lukisan di dinding-dinding Gua, salah satunya yang ada di Wallacea.
Penemuan terbaru pada awal 2026 mengungkapkan lukisan gua tertua di dunia berusia 67.800 tahun di Leang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, menampilkan cap tangan manusia.
Temuan ini melampaui rekor sebelumnya (51.200 tahun) di Maros-Pangkep, mengukuhkan Sulawesi sebagai pusat seni cadas naratif tertua, yang mengubah pemahaman sejarah seni manusia praaksara.
Penemuan lukisan ini mengubah pemikiran kita yang selama ini mengatakan manusia purba itu hanya berburu-pengumpul.
Tetapi lebih dari itu, manusia purba memiliki kemampuan dalam menceritakan kebiasaannya dengan cara menggambar, Manusia purba seakan sudah memikirkan bahwa gambar yang dia buat akan di lihat oleh penerusnya kelak.
Gambar yang sering ditemukan para arkeolog itu, seperti cap tangan, perahu, hewan (ayam, babi, dll). Ini menginterpretasikan bahwa nenek moyang kita memang seorang pelaut.
Nusantara sebagai nafas panjang peradaban dunia
Nusantara dapat dipahami sebagai napas panjang peradaban dunia, sebuah ruang yang menyimpan jejak awal perjalanan manusia, menjadi saksi evolusi biologis sekaligus cikal bakal perkembangan sosial-budaya.
Penemuan ini memperkuat posisi Indonesia dalam peta sejarah global dan menuntut tanggung jawab kolektif untuk menjaga, meneliti, serta mengembangkan warisan tersebut sebagai sumber pengetahuan dan kebanggaan kita sebagai warga Indonesia.
Untuk itu sudah selayaknya para peneliti lokal diberikan anggaran untuk menopang penelitian agar bisa mendapatkan hasil yang maksimal.
kesadaran atas fakta historis ini semestinya tidak berhenti pada romantisme masa lalu, tetapi menjadi fondasi untuk membangun peradaban masa depan berbasis ilmu pengetahuan, identitas, dan kemandirian, sehingga Nusantara tetap menjadi bagian dari denyut panjang sejarah dunia. (*)


